Jumat, 04 Maret 2016

5. Lagi?

5
Lagi?

Untuk Gitari,
Aku ingin memeluk matahari,
berlari memeluk bulan,
memutuskan memeluk angin,
dan berakhir memeluk air.
     Tapi, panasnya menjauhkanku
                    Tapi, aku tak sampai
                    Tapi, aku tidak bisa merasakannya
                    dan ia kabur menjauh

Sama saja seperti memelukmu.          
Damar

“Astaga! Lagi?!” Dahiku mengkerut melihat tulisan itu muncul lagi.
“Dan ini norak hahahaha ups sorry. Aku emang nggak paham soal puisi-puisi kayak gini, tapi dibandingin sama tiga puisi sebelumnya, ini keliatan lebih no…rak.”
Mataku masih menyapu barisan huruf-huruf di papan tulis. Begitu aku selesai membacanya, mataku kembali lagi ke baris pertama. Berkali-kali aku membacanya. Dari secepat kilat sampai secepat siput. Entah ada mantra apa dibalik kata-kata itu, aku mulai menyukai tulisannya. Tidak norak, pikirku.
Oh, tidak! No, Git! No! No! Ini norak! Norak! Norak! Norak!
“Iya sih. Norak.” Kataku. Mataku masih terus menelusuri kata per kata di papan tulis itu.
“Norak tapi kok dibaca terus? Cieee…” Ejek Olsi.
“Apaan sih?!” Aku segera mengelak, mengambil penghapus papan tulis, melenyapkan tulisan itu, dan menghapus tulisan ‘Damar’ terakhir setelah aku memastikan bahwa aku mengingatnya.
“Hmmm… kayaknya tahun ini tahun keberuntungan kamu deh, Gu. Asmara kamu lagi di puncak-puncaknya.”
“Sembarangan deh.”
“Buktinya, puisi ini udah yang ke empat kalinya. Selalu ditulis di papan tulis kelas dan namanya nggak pernah sama alias b-e-d-a...”
“…dan selalu bikin malu dan selalu aku kena tipu!” Aku melanjutkan.
“Iya sih, apesnya gitu. Eh, tapi siapa tau yang ke empat ini beneran orangnya. Kayak di novel-novel atau FTV, Gu. Awalnya sok misterius. Sok-sok nguji kesungguhan kamu, terus diakhir episode kalian akan ketemu, saling tatap-tatapan, terus…”
“…terus bilang ‘sorry itu bukan gue yang nulis’, gitu?” Cibirku.
“Ih pesimis banget sih, Non.”
“Emang begitu kan kenyataannya? Ingat setelah kejadian puisi dengan nama Tio? Dua minggu setelahnya terjadi hal yang sama dan namanya ‘Bayu’. Kita sampai mencari nama Bayu di buku absensi siswa satu sekolah di meja piket guru dan ternyata di sekolah ini ada tiga orang bernama Bayu dan ketiganya mengaku kalau bukan mereka yang menulis puisi itu. Dua minggu setelah insiden puisi bernama Bayu, muncul lagi puisi dengan nama penulisnya ‘Galih’. Ada berapa nama Galih di sekolah ini? Satu! Najandra Galih. Galih. Galih si anggota gengnya Tio dan pada akhirnya Galih bilang apa?”
“’Sorry itu bukan gue yang nulis, Git. Tapi, kalau lu kekeuh itu gue dan mau sama gue, gue juga nggak bisa nolak, Git.’” Gaya bicara Olsi persis seperti Galih.
“Tepat!”
“Tapi, Guuu.. siapa tau yang kali ini JODOH! Terus… jangan-jangan dia bakal nyatain perasaannya di puisi yang kelima!’ Khayalan Olsi muncul lagi. ‘Pisang keju pakai sagu.  Ayang Gugu, I love youuuu! Uuuuu so sweet! Jadi penasaran…” Ejek Olsi.
“Ha-ha-ha sejujurnya itu lebih norak, Si!”
Serius. Apa yang Olsi bilang barusan betul-betul norak! “Whatever you say about J-O-D-O-H, I don’t really care! Aku cuma mau tau siapa  yang sebenarnya nulis itu, Si, karena yang dia tulis itu bikin aku malu. Mau jodoh atau nggak, aku nggak peduli. Udah ah, titip ya.” Aku menyerahkan ranselku pada Olsi. Olsi paham maksudku. “Tolong ya, Si.”
 “IH! Eh, Gu! Mau kemana?”
“Meja piket. Cari buku absensi satu sekolah.”
“IKUUUT! TUNGGUIN, GU!”
“Tunggu di kelas aj...”


JEDUG!
Tepat setelah melalui pintu kelas, keningku menabrak bahu Galih.
“Aw! Sakit tau!”
Sorry ayang, Gita. Ayang Galih nggak liat,” Galih meminta maaf.
“Nggak usah pake ‘ayang ayang’!” Sahutku ketus. “Udah nabrak, pakai bilang ayang-ayang lagi.”
“Laaah… yang nabrak kan elu, Git,” Arsa angkat bicara membela Galih.
 “Biarin. Minggir ah!”
Aku langsung berjalan menuju meja piket. Sementara Olsi masih tertinggal jauh di belakang. Ia baru sampai di TKP tertabraknya keningku dengan bahu Galih barusan.
“Cakep-cakep galak. Jauh jodoh lu, Git,” Ejek Arsa.
“Ayang Gita mau kemana sih, Si? Buru-buru banget,” Tanya Galih begitu Olsi sampai tepat dihadapan mereka bertiga.
“Ke meja piket cari absensi sekolah.”
“Emang Reta nggak masuk? Gita kan bendahara,” tanya Tio.
“Bukan, Yo. Hmmm… buat nyari nama yang nulis puisi tadi.”
 Arsa menahan tawa sekuat tenaga, “Nenek sihir itu dikirimin puisi lagi?”