Sabtu, 25 April 2015

2. Tio

                                        2
Tio

Ini bercanda? Batinku dalam hati.
“HAHAHAHA!” Sekitar  tiga orang laki-laki sedang tertawa di depan koridor kelas.
“Bener, kan?” Ucap salah satu dari mereka.
“Hahaha percuma. ”  Deg. Nah, ini suara Tio. Aku yakin! Dengan menutup mata sekalipun aku bisa menebak yang mana Tio di antara ketiga lelaki itu. Coba saja kumpulkan sepuluh atau lebih laki-laki di SMU ini dan suruh mereka tertawa satu-persatu secara bergantian. Aku berani taruhan, aku tahu yang mana Tio dalam sekali tebak. Gaya dan nada bicara Tio memang sangat khas. Kalau kata orang-orang, suara Tio itu berkarakter. Terdengar agak berat, bijak, dan santun. Apalagi kalau sedang berbicara dengan wanita! Ditambah lagi dengan gesture tubuhnya yang santai dan sikapnya yang tenang saat menghadapi lawan bicaranya. Sikap Tio membuat orang-orang di sekitarnya menjadi nyaman dan senang bercakap-cakap dengannya. Terutama para siswi di sekolah. Menurut pendapat pribadiku, sikap Tio yang seperti itu di hadapan wanita bukanlah sebuah kamuflase untuk pencitraan dirinya. Tapi, memang begitulah Tio yang aku kenal semenjak kami duduk di bangku SMP.
Aku pernah berkunjung ke rumah Tio beberapa kali. Hanya sekadar berkunjung menemani ibuku bertemu dengan ibunya Tio. Ibuku dan Ibu Tio sudah bersahabat jauh sebelum aku dan Tio melihat dunia. Ketika mereka sudah berkeluarga, mereka jadi jarang berkomunikasi dan sibuk mengurusi rumah tangganya masing-masing. Sampai aku dan Tio beranjak remaja dan memasuki SMP yang sama, di situlah, mereka bertemu kembali dan mulai bernostalgia. Persahabatan kedua ibu kami kemudian membawa keluargaku dan keluarga Tio menjadi dekat dan cukup sering mengadakan acara bersama. Meski begitu, aku dan Tio tidak sedekat kedua orang tua kami. Biasa saja. Tio cenderung lebih hemat bicara padaku dibanding dengan kedua adik kembarku, ayah, dan ibuku. Akupun begitu. Aku lebih banyak berbicara dengan ibu Tio, ayah Tio, dan mas Dimas , kakak laki-laki Tio yang dua tahun lebih tua dariku dan Tio. Bagiku mas Dimas lebih menyenangkan dan ramah dibandingkan Tio.
Antara mas Dimas dan Tio terdapat kesamaan yang aku simpulkan itu adalah hasil didikan dari kedua orang tua mereka. Yaitu cara mereka memperlakukan ibu mereka. Sangat santun sekali. Jika berbicara dengan ibu mereka, mereka selalu memantaskan volume dan nada  suara mereka. Cukup dengan volume yang sekiranya bisa di dengar oleh penerima suara dan dengan nada suara yang santun. Maka dari itu, aku tidak heran kalau di sekolah Tio bersikap seperti itu saat berbicara dengan wanita.  Mungkin karena alasan itu juga yang membuat Tio disukai dan dikagumi oleh banyak siswi di sini. Sesuai pula dengan namanya, Anggasta Putra Satrio. Putra satria yang bersemayam. Maksudnya adalah putra dari seorang kesatria yang selalu bersemayam di dalam hati orang-orang. Kata ibunya sih seperti itu. Aku sendiri menafsirkan kalimat ‘bersemayam di dalam hati’ dengan kata ‘disukai oleh orang-orang’ karena memiliki arti yang lebih luas lagi. Bisa ‘disukai’ karena memang menaruh perasaan lebih, seperti teman-temanku kebanyakan, atau bisa juga ‘disukai’ karena hanya mengaguminya, seperti yang terjadi padaku. Aku menyukai Tio karena mengagumi sosoknya. Tidak lebih.
Balik lagi ke masalah suara Tio.  Aku bisa mengenali suara ketawa Tio karena kalau sudah tertawa dengan kumpulan teman-temannya, suaranya yang agak berat itu terdengar menyebalkan di telinga. Aku serius. Suara ketawanya tidak enak didengar, tetapi khas.
“Pantesan di luar sepi.” Kata Arsa sambil bersandar di depan pintu. Menoleh ke koridor kelas yang sepi dan ke dalam kelas yang masih ramai dengan suara-suara bisikan.
Mata Galih menyapu suasana kelas dengan sekali pandang. “Kenapa rame gini di kelas? Emang jam pertama ada PR, Sa?” Tanya Galih kepada Arsa. Sambil menggigit roti coklat di tangan kanannya.
“Jangan berenti di depan pintu gini woy.”
Tio! Aku membatin lagi di dalam hati.
“Yo,” Galih menolehkan kepalanya ke belakang menghadap Tio.
“Telen dulu tuh roti baru ngomong.” Galih berusaha menelan roti di dalam mulutnya.
“Emang jam pertama ada PR?” Galih melempar pertanyaannya kepada Tio.
“Ada.”
“Ah, serius lu? Kok gue nggak inget?”
“Lah elu kan cabut seminggu, Lih?” Arsa mulai menimpali  dan Galih mulai panik.
“Elu kenapa nggak ngasih tau gue sih, Sa?!”
“Gimana mau ngasih tau? Ketemu lu aja baru hari ini.”
“Lu kan punya HP.”
“Lu kan juga punya HP.”
“Maksud gue, elu kan bisa kasih tau gue lewat HP lu!”
“Lah? Kenapa mesti gue yang ngasih tau lu?”
“Ya lu kan temen gue! Inisiatif dong! Inisiatif!” Galih semakin panik.
“Temen sih temen. Tapi tetep elu lah yang harusnya inisiatif. Kan yang nggak masuk sekolah elu. Yang butuh info elu. Elu punya HP dan elu punya temen buat ditanyain.”
“Bener juga lu. Duh! Kena usir lagi deh nih. Masa udah 2 bulan semester baru, gue ikut pelajaran Bahasa Inggris baru 2 kali? Kapan gue pinternya?”
 “Makanya jangan cabut mulu supaya lu pinter! Jadi nggak gampang dikibulin  kayak gini!”
“Wah, rese lu berdua!”
“Hahahaha udah, sekarang lu minggir, Lih. Gue mau lewat.” Galih bergeser. Memberikan ruang bagi Tio untuk berjalan. Tio berjalan memasuki ruang kelas menuju kursinya. Suasana kelas mendadak sunyi. Bola mata para penghuni kelas saling melempar lirik. Ke arahku. Lalu ke arah Tio. Lalu ke arah teman-teman di kelas. Lalu mereka tersenyum-senyum.
“Cie… Gitio! Gita Tio!” Ega memecah keheningan. Ugh! Dasar Ega!
“Cie… selamat ya!”
“Oh. Jadi Gita nih, Yo?”
“Gak apa-apa lagi. Biar Gita nggak galak lagi.”
“Banyak yang patah hati deh.”
Satu persatu mulai bersuara.
 “Alhamdulillah Gita laku! Hahaha”
 “Romantis banget sih.”
“Banget.”
“Puitis.”
“Ada apaan sih?” Tanya Galih bingung.
“Tuh.” Ega menunjuk papan tulis.
Galih dan Arsa langsung membaca tulisan yang dimaksud Ega. Ada napas yang berusaha ditahan oleh keduanya.
“HAHAHAHA!!!! YO!! HAHAHAHA!!” Galih dan Arsa tertawa puas. Malah Galih lebih puas lagi ketawanya.
Tio beranjak dari tempat duduknya. Menghampiri kedua sahabatnya dan membaca tulisan di papan tulis. “Terus kenapa?”
Terus kenapa? Oh iya ya. Terus kenapa? Ya nggak kenapa-kenapa sih. Eh, tunggu! Tunggu! Nggak kenapa-kenapa? Aduh! Mau mikir apa sih Git? Kok jadi bingung gini! Git, fokus. Fokus. Rileks dan berpikir  cepat, Git! Oke. Mungkin Tio hanya iseng aja, Git. Anggap aja bercanda. Mana mungkin Tio  ngelirik aku. Ngobrol aja jarang. Eh, tapi mungkin aja sih. Dalamnya hati kan nggak ada yang tau. Siapa tau Tio jarang ngomong sama aku karna dia malu dan nggak tau mesti ngomong apa. Bisa aja kan? Lagian orang kayak Tio nggak mungkin bercanda soal kayak gini kan? Kayaknya nggak mungkin deh. Iya, nggak mungkin Tio bercanda. Kali ini aku mencoba meyakinkan diriku kalau itu memang Tio.
Tio berdiri tidak jauh dariku. Aku kikuk. Sangat kikuk. Aku memutar otakku cepat. Memikirkan harus berkata apa kepada Tio. Udahlah, Git bilang aja ‘maaf, aku hanya mengagumi kamu’. Ih! Nggak! Nggak! Atau ‘Maksud kamu apa? Pengecut banget! Bilang langsung aja emang nggak bisa? Pake sok-sok nulis puisi!’ Nggak! Nggak! Itu sama aja kayak orang yang nggak tau terimakasih. Oh iya! Terimakasih! Tidak ada salahnya dengan mengucapkan terimakasih atas kebaikan yang telah diberikan kepada kita, kan?
“Yo…” Aku mulai membuka suara. Tio langsung memutar balikan tubuhnya menghadapku.  Gesturenya masih tenang dan santai, tapi suaranya langsung berubah.
“Kenapa, Git?”
AAAAHHH! Gita! Apa yang kamu lakuin?! Kenapa dipanggil sih!
Sekarang telapak tanganku mulai berkeringat. Tatapan mataku mulai tidak fokus mau melihat ke arah mana. Demi apapun aku mau lari dari ruang kelas saat itu juga. Tapi, semua udah terlanjur. Tio sudah membalikan badannya. Aku kumpulkan setengah keberanian yang kupunya untuk menunjuk tulisan di papan tulis.
“Oh. Itu. Iya, udah baca,Git.” 
 Aku kumpulkan lagi setengah keberanian yang aku sisakan untuk mengucapkan terimakasih. “Makasih, ya.”
Legaaaa. Pikirku.
Kelaspun langsung riuh dengan sorakan-sorakan yang terdengar samar-samar di telingaku karena aku sibuk mengatur degup jantungku yang terus berdetak kencang dan telapak tanganku yang terus berkeringat.
“Makasih untuk apa, Git?” Tanya Tio.
Aku mulai berani menatap Tio dan menunjuk lagi tulisan di papan tulis. “Itu. Bagus.”
Galih kembali tertawa. “Hahahaha Iyalah bagus, Git!”
Tio memutar balik tubuhnya. Entah isyarat apa yang diberikan Tio kepada Galih sampai membuat Galih tidak lagi bersuara. Aku hanya bisa melihat Galih menangkupkan kedua telapak tangannya sambil mengucap kata ‘maaf…maaf…’ tanpa bersuara. Setelah itu Tio memutar kembali tubuhnya. Berhadapan lagi denganku.
“Iya, Git. Bagus.”
“Iya. Makasih, Yo.”
“Kenapa makasihnya ke saya?” Tanya Tio. Bingung. 

Rabu, 22 April 2015

1. Tolong, sisakanlah sedikit ruang di dalam kepalamu

1
Tolong, sisakanlah sedikit ruang di dalam kepalamu




Bagi sebagian siswa, pergi ke sekolah di pagi hari adalah hal yang cukup menyebalkan. Bangun pagi. Mandi pagi. Berkutat dengan asap knalpot di pagi hari. Berdesak-desakan di dalam angkutan umum dan berbagai kegiatan menyebalkan lainnya yang harus terjadi di pagi hari. Tapi, aku tidak masalah dengan itu semua. Aku tidak masalah dengan asap knalpot pagi dan penuhnya penumpang di dalam angkutan umum karena aku tidak mengalami hal itu. Bukan. Bukan karena aku naik kendaraan pribadi ke sekolah, melainkan karena aku bangun dan berangkat lebih pagi dari siswa kebanyakan.
Sebelumnya aku bukanlah seorang siswi yang rajin datang pagi ke sekolah. Paling cepat sepuluh menit sebelum bel berbunyi kakiku baru mendarat di depan gerbang sekolah. Alasannya sederhana karena setiap pagi aku harus sarapan (entah kenapa aku kalau sarapan sangat lamban). Setelah sarapan, alarm perutku akan berbunyi. Memberitahu sudah waktunya untuk menuntaskan sisa-sisa makanan semalam ke tempat seharusnya dibuang. Selepas ritual setiap pagi itu, aku baru berangkat ke sekolah. Semua kegiatan berjalan dengan tenang hingga tiba di sekolah. Tapi, ulah manusia yang satu itu telah mengubah semua jadwal rutinitas pagiku. Semuanya terjadi lebih pagi dari jadwal biasanya dan berjalan lebih cepat dari biasanya karena aku harus tiba sepagi-paginya di sekolah. Akupun resmi menjadi siswi teladan pagi. Sebuah predikat yang aku berikan sendiri untuk menyenangkan diriku sendiri. Meskipun pada akhirnya tidak berpengaruh sama sekali.
Mari berbicara tentang cinta sebentar. Aku pernah membaca kisah cinta yang romantis di berbagai buku cerita, mendengarnya dari orang-orang di sekitarku, dan melihatnya di televisi dan film. Ceritanya seputar tokoh pria yang mengutarakan cintanya dengan cara yang sangat romantis demi memikat hati sang pujaan hati. Mengerahkan seluruh rasa cintanya untuk melindunginya. Berusaha mengubah kesedihannya menjadi kebahagiaan sepanjang hari. Sang wanita kemudian merasa sangat beruntung dicintai oleh lelaki seperti tokoh pria tersebut dan tidak jarang cerita akan berakhir dengan akhir yang bahagia. Ah, betapa bahagianya wanita itu! Iya, wanita di dalam cerita-cerita itu! Mereka seperti tidak direpotkan oleh tokoh pria yang mencintainya. Setidaknya tidak membuatnya datang lebih pagi ke sekolah sepertiku. Hah! Aku benar-benar kesal!
Entah tokoh pria yang satu ini nyasar dari peradaban apa, tahun berapa, dan planet mana. Setidaknya aku belum pernah bertemu dengan seseorang yang selain merepotkan, ia juga berbakat menjadi seorang penyair. Penyair kelas yang norak!
Semua bermula di suatu hari yang cerah, anggap saja hari itu adalah hari yang cerah karena setelahnya akan berubah menjadi gelap dengan petir yang menyambar-nyambar seketika. Seperti biasa, aku tiba di sekolah sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi.
Di sekolah, hari itu tidak biasanya Ega berucap syukur pagi-pagi. Di koridor depan kelas. Tidak jauh dari pintu kelas. Di depan mukaku dan jelas sekali rasa syukur itu  ditujukan kepadaku. Tumben.
“Git! Alhamdulillah! Puji syukur, Git!”
“Sehat, Ga? Tumben pagi-pagi udah bersyukur. Minggir ah! Mau lewat nih!”
Tiba-tiba muncul Olsi dari balik pintu kelas. Tanpa babibu, Olsi langsung menyemburku.
“Gu! Kok nggak cerita sih!” Gugu itu nama panggilan dari Olsi. Jangan tanya asal nama Gugu dari mana. Soalnya, aku juga nggak tau dari mana dan kenapa dari Gita bisa jadi Gugu. Sesuka Olsi saja. Terserah. Dia memang suka gunta-ganti nama orang sesuka hatinya. Selama nggak ada penambahan huruf ‘K’ dibelakang kata Gugu, aku nggak masalah.
“Nggak cerita tentang apa sih, Si?”
“Sini!” Tangan Olsi langsung menyambar pergelangan tanganku dan menarik tubuhku menuju ke dalam kelas.
Ramai. Suasana di kelas saat itu sedang ramai. Beberapa dari mereka bersorak ke arahku. Beberapa dari mereka menjatuhkan tatapannya ke arahku. Beberapa dari mereka memberikan selamat kepadaku. Beberapa dari mereka mengejeku seperti yang dilakukan Ega di koridor depan kelas.
Langkah dan tarikan tangan Olsi berhenti tepat di antara kerumunan teman-teman yang sedang berdiri di depan kelas.
“Tuh!” Olsi menunjuk papan tulis yang berada di sebelah kananku. Aku tengokan kepalaku terlebih dahulu. Ada barisan kata-kata di sana. Ditulis dengan huruf yang cukup rapi dan langsing-langsing. Lalu, kuputar tubuhku hingga berhadapan dengan papan tulis dan ku baca tulisan di papan tulis itu. Tulisan yang kemudian menyulut petir-petir muncul di pagi hari untuk cepat menyambar-nyambar seluruh penjuru dunia. Terutama sekolah!

Untuk Gitari,
Tulisan ini akan dibaca oleh beberapa pasang mata hingga selesai
Dan akan menjadi buah manis bagi bibir-bibir manis di luar sana
Lalu, saat kamu datang pada waktunya
Akan kamu dapati sekumpulan orang di depanmu
Menatapmu dengan takjub
Mengucap namamu berkali-kali
Kemudian, semua yang terjadi menjadi tanda tanya besar di kepalamu
Dan terjawab saat kamu selesai membaca tulisan ini.

Tolong, sisakanlah sedikit ruang di dalam kepalamu
Untuk aku singgah melepas letih setelah berlari demi menulis ini untukmu.
Tio                         


“Tio?” Hanya satu Tio yang aku kenal di SMU-ku. “Anggasta Putra Satrio?”