1
Tolong, sisakanlah sedikit ruang di dalam kepalamu
Bagi sebagian siswa, pergi ke sekolah di pagi hari adalah hal yang cukup menyebalkan.
Bangun pagi. Mandi pagi. Berkutat dengan asap knalpot di pagi hari.
Berdesak-desakan di dalam angkutan umum dan berbagai kegiatan menyebalkan
lainnya yang harus terjadi di pagi hari. Tapi, aku tidak masalah dengan itu
semua. Aku tidak masalah dengan asap knalpot pagi dan penuhnya penumpang di
dalam angkutan umum karena aku tidak mengalami hal itu. Bukan. Bukan karena aku
naik kendaraan pribadi ke sekolah, melainkan karena aku bangun dan berangkat
lebih pagi dari siswa kebanyakan.
Sebelumnya aku bukanlah seorang siswi yang rajin datang pagi ke sekolah.
Paling cepat sepuluh menit sebelum bel berbunyi kakiku baru mendarat di depan
gerbang sekolah. Alasannya sederhana karena setiap pagi aku harus sarapan
(entah kenapa aku kalau sarapan sangat lamban). Setelah sarapan, alarm perutku
akan berbunyi. Memberitahu sudah waktunya untuk menuntaskan sisa-sisa makanan
semalam ke tempat seharusnya dibuang. Selepas ritual setiap pagi itu, aku baru
berangkat ke sekolah. Semua kegiatan berjalan dengan tenang hingga tiba di
sekolah. Tapi, ulah manusia yang satu itu telah mengubah semua jadwal rutinitas
pagiku. Semuanya terjadi lebih pagi dari jadwal biasanya dan berjalan lebih
cepat dari biasanya karena aku harus tiba sepagi-paginya di sekolah. Akupun
resmi menjadi siswi teladan pagi. Sebuah predikat yang aku berikan sendiri untuk menyenangkan diriku sendiri. Meskipun pada akhirnya tidak
berpengaruh sama sekali.
Mari berbicara tentang cinta sebentar. Aku pernah membaca kisah cinta
yang romantis di berbagai buku cerita, mendengarnya dari orang-orang di
sekitarku, dan melihatnya di televisi dan film. Ceritanya seputar tokoh pria
yang mengutarakan cintanya dengan cara yang sangat romantis demi memikat hati
sang pujaan hati. Mengerahkan seluruh rasa cintanya untuk melindunginya.
Berusaha mengubah kesedihannya menjadi kebahagiaan sepanjang hari. Sang wanita kemudian
merasa sangat beruntung dicintai oleh lelaki seperti tokoh pria tersebut dan
tidak jarang cerita akan berakhir dengan akhir yang bahagia. Ah, betapa
bahagianya wanita itu! Iya, wanita di dalam cerita-cerita itu! Mereka seperti tidak
direpotkan oleh tokoh pria yang mencintainya. Setidaknya tidak membuatnya
datang lebih pagi ke sekolah sepertiku. Hah! Aku benar-benar kesal!
Entah tokoh pria yang satu ini nyasar dari peradaban apa, tahun berapa,
dan planet mana. Setidaknya aku belum pernah bertemu dengan seseorang yang
selain merepotkan, ia juga berbakat menjadi seorang penyair. Penyair kelas yang
norak!
Semua bermula di suatu hari yang cerah, anggap saja hari itu adalah hari
yang cerah karena setelahnya akan berubah menjadi gelap dengan petir yang
menyambar-nyambar seketika. Seperti biasa, aku tiba di sekolah sepuluh menit
sebelum bel masuk berbunyi.
Di sekolah, hari itu tidak biasanya Ega berucap syukur pagi-pagi. Di
koridor depan kelas. Tidak jauh dari pintu kelas. Di depan mukaku dan jelas
sekali rasa syukur itu ditujukan kepadaku.
Tumben.
“Git! Alhamdulillah! Puji syukur, Git!”
“Sehat, Ga? Tumben pagi-pagi udah bersyukur. Minggir ah! Mau lewat nih!”
Tiba-tiba muncul Olsi dari balik pintu kelas. Tanpa babibu, Olsi langsung
menyemburku.
“Gu! Kok nggak cerita sih!” Gugu itu nama panggilan dari Olsi. Jangan
tanya asal nama Gugu dari mana. Soalnya, aku juga nggak tau dari mana dan
kenapa dari Gita bisa jadi Gugu. Sesuka Olsi saja. Terserah. Dia memang suka
gunta-ganti nama orang sesuka hatinya. Selama nggak ada penambahan huruf ‘K’
dibelakang kata Gugu, aku nggak masalah.
“Nggak cerita tentang apa sih, Si?”
“Sini!” Tangan Olsi langsung menyambar pergelangan tanganku dan menarik
tubuhku menuju ke dalam kelas.
Ramai. Suasana di kelas saat itu sedang ramai. Beberapa dari mereka
bersorak ke arahku. Beberapa dari mereka menjatuhkan tatapannya ke arahku.
Beberapa dari mereka memberikan selamat kepadaku. Beberapa dari mereka
mengejeku seperti yang dilakukan Ega di koridor depan kelas.
Langkah dan tarikan tangan Olsi berhenti tepat di antara kerumunan
teman-teman yang sedang berdiri di depan kelas.
“Tuh!” Olsi menunjuk papan tulis yang berada di sebelah kananku. Aku
tengokan kepalaku terlebih dahulu. Ada barisan kata-kata di sana. Ditulis
dengan huruf yang cukup rapi dan langsing-langsing. Lalu, kuputar tubuhku hingga
berhadapan dengan papan tulis dan ku baca tulisan di papan tulis itu. Tulisan
yang kemudian menyulut petir-petir muncul di pagi hari untuk cepat
menyambar-nyambar seluruh penjuru dunia. Terutama sekolah!
Untuk Gitari,
Tulisan ini akan dibaca oleh
beberapa pasang mata hingga selesai
Dan akan menjadi buah manis bagi
bibir-bibir manis di luar sana
Lalu, saat kamu datang pada
waktunya
Akan kamu dapati sekumpulan orang
di depanmu
Menatapmu dengan takjub
Mengucap namamu berkali-kali
Kemudian, semua yang terjadi
menjadi tanda tanya besar di kepalamu
Dan terjawab saat kamu selesai
membaca tulisan ini.
Tolong, sisakanlah sedikit ruang di
dalam kepalamu
Untuk aku singgah melepas letih
setelah berlari demi menulis ini untukmu.
Tio
“Tio?” Hanya satu Tio yang aku kenal di SMU-ku. “Anggasta Putra Satrio?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar