Rabu, 22 April 2015

1. Tolong, sisakanlah sedikit ruang di dalam kepalamu

1
Tolong, sisakanlah sedikit ruang di dalam kepalamu




Bagi sebagian siswa, pergi ke sekolah di pagi hari adalah hal yang cukup menyebalkan. Bangun pagi. Mandi pagi. Berkutat dengan asap knalpot di pagi hari. Berdesak-desakan di dalam angkutan umum dan berbagai kegiatan menyebalkan lainnya yang harus terjadi di pagi hari. Tapi, aku tidak masalah dengan itu semua. Aku tidak masalah dengan asap knalpot pagi dan penuhnya penumpang di dalam angkutan umum karena aku tidak mengalami hal itu. Bukan. Bukan karena aku naik kendaraan pribadi ke sekolah, melainkan karena aku bangun dan berangkat lebih pagi dari siswa kebanyakan.
Sebelumnya aku bukanlah seorang siswi yang rajin datang pagi ke sekolah. Paling cepat sepuluh menit sebelum bel berbunyi kakiku baru mendarat di depan gerbang sekolah. Alasannya sederhana karena setiap pagi aku harus sarapan (entah kenapa aku kalau sarapan sangat lamban). Setelah sarapan, alarm perutku akan berbunyi. Memberitahu sudah waktunya untuk menuntaskan sisa-sisa makanan semalam ke tempat seharusnya dibuang. Selepas ritual setiap pagi itu, aku baru berangkat ke sekolah. Semua kegiatan berjalan dengan tenang hingga tiba di sekolah. Tapi, ulah manusia yang satu itu telah mengubah semua jadwal rutinitas pagiku. Semuanya terjadi lebih pagi dari jadwal biasanya dan berjalan lebih cepat dari biasanya karena aku harus tiba sepagi-paginya di sekolah. Akupun resmi menjadi siswi teladan pagi. Sebuah predikat yang aku berikan sendiri untuk menyenangkan diriku sendiri. Meskipun pada akhirnya tidak berpengaruh sama sekali.
Mari berbicara tentang cinta sebentar. Aku pernah membaca kisah cinta yang romantis di berbagai buku cerita, mendengarnya dari orang-orang di sekitarku, dan melihatnya di televisi dan film. Ceritanya seputar tokoh pria yang mengutarakan cintanya dengan cara yang sangat romantis demi memikat hati sang pujaan hati. Mengerahkan seluruh rasa cintanya untuk melindunginya. Berusaha mengubah kesedihannya menjadi kebahagiaan sepanjang hari. Sang wanita kemudian merasa sangat beruntung dicintai oleh lelaki seperti tokoh pria tersebut dan tidak jarang cerita akan berakhir dengan akhir yang bahagia. Ah, betapa bahagianya wanita itu! Iya, wanita di dalam cerita-cerita itu! Mereka seperti tidak direpotkan oleh tokoh pria yang mencintainya. Setidaknya tidak membuatnya datang lebih pagi ke sekolah sepertiku. Hah! Aku benar-benar kesal!
Entah tokoh pria yang satu ini nyasar dari peradaban apa, tahun berapa, dan planet mana. Setidaknya aku belum pernah bertemu dengan seseorang yang selain merepotkan, ia juga berbakat menjadi seorang penyair. Penyair kelas yang norak!
Semua bermula di suatu hari yang cerah, anggap saja hari itu adalah hari yang cerah karena setelahnya akan berubah menjadi gelap dengan petir yang menyambar-nyambar seketika. Seperti biasa, aku tiba di sekolah sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi.
Di sekolah, hari itu tidak biasanya Ega berucap syukur pagi-pagi. Di koridor depan kelas. Tidak jauh dari pintu kelas. Di depan mukaku dan jelas sekali rasa syukur itu  ditujukan kepadaku. Tumben.
“Git! Alhamdulillah! Puji syukur, Git!”
“Sehat, Ga? Tumben pagi-pagi udah bersyukur. Minggir ah! Mau lewat nih!”
Tiba-tiba muncul Olsi dari balik pintu kelas. Tanpa babibu, Olsi langsung menyemburku.
“Gu! Kok nggak cerita sih!” Gugu itu nama panggilan dari Olsi. Jangan tanya asal nama Gugu dari mana. Soalnya, aku juga nggak tau dari mana dan kenapa dari Gita bisa jadi Gugu. Sesuka Olsi saja. Terserah. Dia memang suka gunta-ganti nama orang sesuka hatinya. Selama nggak ada penambahan huruf ‘K’ dibelakang kata Gugu, aku nggak masalah.
“Nggak cerita tentang apa sih, Si?”
“Sini!” Tangan Olsi langsung menyambar pergelangan tanganku dan menarik tubuhku menuju ke dalam kelas.
Ramai. Suasana di kelas saat itu sedang ramai. Beberapa dari mereka bersorak ke arahku. Beberapa dari mereka menjatuhkan tatapannya ke arahku. Beberapa dari mereka memberikan selamat kepadaku. Beberapa dari mereka mengejeku seperti yang dilakukan Ega di koridor depan kelas.
Langkah dan tarikan tangan Olsi berhenti tepat di antara kerumunan teman-teman yang sedang berdiri di depan kelas.
“Tuh!” Olsi menunjuk papan tulis yang berada di sebelah kananku. Aku tengokan kepalaku terlebih dahulu. Ada barisan kata-kata di sana. Ditulis dengan huruf yang cukup rapi dan langsing-langsing. Lalu, kuputar tubuhku hingga berhadapan dengan papan tulis dan ku baca tulisan di papan tulis itu. Tulisan yang kemudian menyulut petir-petir muncul di pagi hari untuk cepat menyambar-nyambar seluruh penjuru dunia. Terutama sekolah!

Untuk Gitari,
Tulisan ini akan dibaca oleh beberapa pasang mata hingga selesai
Dan akan menjadi buah manis bagi bibir-bibir manis di luar sana
Lalu, saat kamu datang pada waktunya
Akan kamu dapati sekumpulan orang di depanmu
Menatapmu dengan takjub
Mengucap namamu berkali-kali
Kemudian, semua yang terjadi menjadi tanda tanya besar di kepalamu
Dan terjawab saat kamu selesai membaca tulisan ini.

Tolong, sisakanlah sedikit ruang di dalam kepalamu
Untuk aku singgah melepas letih setelah berlari demi menulis ini untukmu.
Tio                         


“Tio?” Hanya satu Tio yang aku kenal di SMU-ku. “Anggasta Putra Satrio?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar