2
Tio
Ini
bercanda? Batinku dalam hati.
“HAHAHAHA!” Sekitar tiga orang laki-laki sedang tertawa di depan
koridor kelas.
“Bener, kan?” Ucap salah satu dari
mereka.
“Hahaha percuma. ” Deg. Nah, ini suara Tio. Aku yakin! Dengan
menutup mata sekalipun aku bisa menebak yang mana Tio di antara ketiga lelaki
itu. Coba saja kumpulkan sepuluh atau lebih laki-laki di SMU ini dan suruh
mereka tertawa satu-persatu secara bergantian. Aku berani taruhan, aku tahu
yang mana Tio dalam sekali tebak. Gaya dan nada bicara Tio memang sangat khas. Kalau
kata orang-orang, suara Tio itu berkarakter. Terdengar agak berat, bijak, dan santun. Apalagi kalau sedang
berbicara dengan wanita! Ditambah lagi dengan gesture tubuhnya yang santai dan sikapnya yang tenang saat
menghadapi lawan bicaranya. Sikap Tio membuat orang-orang di sekitarnya menjadi
nyaman dan senang bercakap-cakap dengannya. Terutama para siswi di sekolah. Menurut
pendapat pribadiku, sikap Tio yang seperti itu di hadapan wanita bukanlah
sebuah kamuflase untuk pencitraan dirinya. Tapi, memang begitulah Tio yang aku
kenal semenjak kami duduk di bangku SMP.
Aku pernah berkunjung ke rumah Tio
beberapa kali. Hanya sekadar berkunjung menemani ibuku bertemu dengan ibunya
Tio. Ibuku dan Ibu Tio sudah bersahabat jauh sebelum aku dan Tio melihat dunia.
Ketika mereka sudah berkeluarga, mereka jadi jarang berkomunikasi dan sibuk mengurusi
rumah tangganya masing-masing. Sampai aku dan Tio beranjak remaja dan memasuki
SMP yang sama, di situlah, mereka bertemu kembali dan mulai bernostalgia.
Persahabatan kedua ibu kami kemudian membawa keluargaku dan keluarga Tio
menjadi dekat dan cukup sering mengadakan acara bersama. Meski begitu, aku dan
Tio tidak sedekat kedua orang tua kami. Biasa saja. Tio cenderung lebih hemat
bicara padaku dibanding dengan kedua adik kembarku, ayah, dan ibuku. Akupun
begitu. Aku lebih banyak berbicara dengan ibu Tio, ayah Tio, dan mas Dimas ,
kakak laki-laki Tio yang dua tahun lebih tua dariku dan Tio. Bagiku mas Dimas
lebih menyenangkan dan ramah dibandingkan Tio.
Antara mas Dimas dan Tio terdapat
kesamaan yang aku simpulkan itu adalah hasil didikan dari kedua orang tua
mereka. Yaitu cara mereka memperlakukan ibu mereka. Sangat santun sekali. Jika berbicara
dengan ibu mereka, mereka selalu memantaskan volume dan nada suara mereka. Cukup dengan volume yang
sekiranya bisa di dengar oleh penerima suara dan dengan nada suara yang santun.
Maka dari itu, aku tidak heran kalau di sekolah Tio bersikap seperti itu saat berbicara
dengan wanita. Mungkin karena alasan itu
juga yang membuat Tio disukai dan dikagumi oleh banyak siswi di sini. Sesuai pula
dengan namanya, Anggasta Putra Satrio. Putra satria yang bersemayam. Maksudnya
adalah putra dari seorang kesatria yang selalu bersemayam di dalam hati orang-orang.
Kata ibunya sih seperti itu. Aku sendiri menafsirkan kalimat ‘bersemayam di
dalam hati’ dengan kata ‘disukai oleh orang-orang’ karena memiliki arti yang
lebih luas lagi. Bisa ‘disukai’ karena memang menaruh perasaan lebih, seperti
teman-temanku kebanyakan, atau bisa juga ‘disukai’ karena hanya mengaguminya, seperti
yang terjadi padaku. Aku menyukai Tio karena mengagumi sosoknya. Tidak lebih.
Balik lagi ke masalah suara Tio. Aku bisa mengenali suara ketawa Tio karena
kalau sudah tertawa dengan kumpulan teman-temannya, suaranya yang agak berat itu
terdengar menyebalkan di telinga. Aku serius. Suara ketawanya tidak enak
didengar, tetapi khas.
“Pantesan di luar sepi.” Kata Arsa
sambil bersandar di depan pintu. Menoleh ke koridor kelas yang sepi dan ke
dalam kelas yang masih ramai dengan suara-suara bisikan.
Mata Galih menyapu suasana kelas dengan
sekali pandang. “Kenapa rame gini di kelas? Emang jam pertama ada PR, Sa?”
Tanya Galih kepada Arsa. Sambil menggigit roti coklat di tangan kanannya.
“Jangan berenti di depan pintu gini
woy.”
Tio!
Aku membatin lagi di dalam hati.
“Yo,” Galih menolehkan kepalanya ke
belakang menghadap Tio.
“Telen dulu tuh roti baru ngomong.”
Galih berusaha menelan roti di dalam mulutnya.
“Emang jam pertama ada PR?” Galih
melempar pertanyaannya kepada Tio.
“Ada.”
“Ah, serius lu? Kok gue nggak inget?”
“Lah elu kan cabut seminggu, Lih?” Arsa
mulai menimpali dan Galih mulai panik.
“Elu kenapa nggak ngasih tau gue sih,
Sa?!”
“Gimana mau ngasih tau? Ketemu lu aja baru hari ini.”
“Lu kan punya HP.”
“Lu kan juga punya HP.”
“Maksud gue, elu kan bisa kasih tau gue
lewat HP lu!”
“Lah? Kenapa mesti gue yang ngasih tau
lu?”
“Ya lu kan temen gue! Inisiatif dong! Inisiatif!”
Galih semakin panik.
“Temen sih temen. Tapi tetep elu lah
yang harusnya inisiatif. Kan yang nggak masuk sekolah elu. Yang butuh info elu. Elu punya
HP dan elu punya temen buat ditanyain.”
“Bener juga lu. Duh! Kena usir lagi deh
nih. Masa udah 2 bulan semester baru, gue ikut pelajaran Bahasa Inggris baru 2
kali? Kapan gue pinternya?”
“Makanya
jangan cabut mulu supaya lu pinter! Jadi nggak gampang dikibulin kayak gini!”
“Wah, rese lu berdua!”
“Hahahaha udah, sekarang lu minggir,
Lih. Gue mau lewat.” Galih bergeser. Memberikan ruang bagi Tio untuk berjalan.
Tio berjalan memasuki ruang kelas menuju kursinya. Suasana kelas mendadak
sunyi. Bola mata para penghuni kelas saling melempar lirik. Ke arahku. Lalu ke
arah Tio. Lalu ke arah teman-teman di kelas. Lalu mereka tersenyum-senyum.
“Cie… Gitio! Gita Tio!” Ega memecah
keheningan. Ugh! Dasar Ega!
“Cie… selamat ya!”
“Oh. Jadi Gita nih, Yo?”
“Gak apa-apa lagi. Biar Gita nggak
galak lagi.”
“Banyak yang patah hati deh.”
Satu persatu mulai bersuara.
“Alhamdulillah Gita laku! Hahaha”
“Romantis
banget sih.”
“Banget.”
“Puitis.”
“Ada apaan sih?” Tanya Galih bingung.
“Tuh.” Ega menunjuk papan tulis.
Galih dan Arsa langsung membaca tulisan
yang dimaksud Ega. Ada napas yang berusaha ditahan oleh keduanya.
“HAHAHAHA!!!! YO!! HAHAHAHA!!” Galih
dan Arsa tertawa puas. Malah Galih lebih puas lagi ketawanya.
Tio beranjak dari tempat duduknya.
Menghampiri kedua sahabatnya dan membaca tulisan di papan tulis. “Terus kenapa?”
Terus
kenapa? Oh iya ya. Terus kenapa? Ya nggak kenapa-kenapa sih. Eh, tunggu! Tunggu!
Nggak kenapa-kenapa? Aduh! Mau mikir apa sih Git? Kok jadi bingung gini! Git, fokus.
Fokus. Rileks dan berpikir cepat, Git! Oke.
Mungkin Tio hanya iseng aja, Git. Anggap aja bercanda. Mana mungkin Tio ngelirik aku. Ngobrol aja jarang. Eh, tapi
mungkin aja sih. Dalamnya hati kan nggak ada yang tau. Siapa tau Tio jarang
ngomong sama aku karna dia malu dan nggak tau mesti ngomong apa. Bisa aja kan? Lagian
orang kayak Tio nggak mungkin bercanda soal kayak gini kan? Kayaknya nggak
mungkin deh. Iya, nggak mungkin Tio bercanda. Kali ini aku mencoba
meyakinkan diriku kalau itu memang Tio.
Tio berdiri tidak jauh dariku. Aku
kikuk. Sangat kikuk. Aku memutar otakku cepat. Memikirkan harus berkata apa kepada
Tio. Udahlah, Git bilang aja ‘maaf, aku
hanya mengagumi kamu’. Ih! Nggak! Nggak! Atau ‘Maksud kamu apa? Pengecut
banget! Bilang langsung aja emang nggak bisa? Pake sok-sok nulis puisi!’ Nggak!
Nggak! Itu sama aja kayak orang yang nggak tau terimakasih. Oh iya!
Terimakasih! Tidak ada salahnya dengan mengucapkan terimakasih atas kebaikan
yang telah diberikan kepada kita, kan?
“Yo…” Aku mulai membuka suara. Tio
langsung memutar balikan tubuhnya menghadapku. Gesturenya masih tenang dan santai, tapi suaranya langsung berubah.
“Kenapa, Git?”
AAAAHHH!
Gita! Apa yang kamu lakuin?! Kenapa dipanggil sih!
Sekarang telapak tanganku mulai
berkeringat. Tatapan mataku mulai tidak fokus mau melihat ke arah mana. Demi
apapun aku mau lari dari ruang kelas saat itu juga. Tapi, semua udah terlanjur.
Tio sudah membalikan badannya. Aku kumpulkan setengah keberanian yang kupunya
untuk menunjuk tulisan di papan tulis.
“Oh. Itu. Iya, udah baca,Git.”
Aku
kumpulkan lagi setengah keberanian yang aku sisakan untuk mengucapkan
terimakasih. “Makasih, ya.”
Legaaaa.
Pikirku.
Kelaspun langsung riuh dengan
sorakan-sorakan yang terdengar samar-samar di telingaku karena aku sibuk
mengatur degup jantungku yang terus berdetak kencang dan telapak tanganku yang
terus berkeringat.
“Makasih untuk apa, Git?” Tanya Tio.
Aku mulai berani menatap Tio dan
menunjuk lagi tulisan di papan tulis. “Itu. Bagus.”
Galih kembali tertawa. “Hahahaha Iyalah
bagus, Git!”
Tio
memutar balik tubuhnya. Entah isyarat apa yang diberikan Tio kepada Galih
sampai membuat Galih tidak lagi bersuara. Aku hanya bisa melihat Galih menangkupkan
kedua telapak tangannya sambil mengucap kata ‘maaf…maaf…’ tanpa bersuara. Setelah itu Tio memutar kembali tubuhnya.
Berhadapan lagi denganku.
“Iya,
Git. Bagus.”
“Iya. Makasih, Yo.”
“Kenapa makasihnya ke saya?” Tanya Tio.
Bingung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar