3
Malu
“Ini
loh maksudnya.” Galih mengambil inisiatif untuk menjelaskannya kepada Tio. Ia
menunjuk-nunjuk kata ‘Tio’ yang diberi garis bawah di papan tulis.
“Oh! Itu Tio yang lain kali, Git. Bukan
Tio saya.”
“Maksudnya?”
Sekarang aku yang bingung.
“Yaaaah Git. Tio mana bisa buat yang
puitis kayak gitu.” Arsa ikut angkat bicara. “Dikasih tugas nulis puisi aja dia
minta buatin Galih. Galih kali nih yang nulis!”
Galih menggeleng. “Bukan gue, Git.
Suwer! Gue tuh kalau nulis puisi paling cuma 5 kata. Paling banyak 6 kata. Itu
juga cuma buat tugas bahasa Indonesia. Lagian di sini namanya kan ‘TIO’ bukan
‘GALIH’. Tuh!”
“Tapi
ini bukan tulisan tangan saya dan saya paling nggak bisa nulis puisi. Cuma suka
baca aja, Git.” Sambung Tio. “Mungkin ini Tio yang lain.”
“Ah, siapa tau lu minta orang lain nulisin
ini tapi atas nama lu, Yo. Gue kan korban sekaligus saksi dari kejahatan
plagiat lu. Jadi gue tau lu banget, Yo.” Ledek Galih sekaligus balas dendam
atas tipuan Tio sebelumnya.
“Yeee… gue nggak segitunya juga kali,
Lih. Kecuali sama lu. Lagian abis itu kan gue ngaku kalau itu bukan gue yang
buat, tapi elu.”
Aku ingat! Waktu itu Bu Wina pernah
menugasi kami untuk membuat sebuah puisi dan dikumpulkan. Tiga hari kemudian,
puisi kami dikembalikan. Tidak ada nilai tertera di atas kertas kami. Yang ada
hanya barisan komentar yang ditulis dengan tinta biru oleh Bu Wina. Komentarnya
pun beragam. Yang jelas tidak ada satupun kalimat seperti ‘PUISI INI SANGAT
JELEK, NAK!’ atau ‘KAMU TIDAK BERBAKAT MENULIS PUISI, NAK!’ yang ditulisnya
untuk kami. Bu Wina tidak biasa langsung memvonis anak muridnya ‘tidak bisa’
pada mata pelajaran yang diajar oleh dirinya. Menurutnya, pada dasarnya semua anak
memiliki potensi dibidang apapun. Sebagai seorang guru, ia bertugas menuntun
anak didiknya untuk mengenali potensi diri mereka dan membantu untuk bisa
mengembangkannya. Salah satunya melalui tugas menulis puisi pada mata pelajaran
bahasa Indonesia.
Menurutku, Bu Wina adalah guru yang tahu
benar bagaimana caranya menyampaikan sebuah kriktik yang membangun dan
membangkitkan minat kami. Satu lagi keahlian Bu Wina. Ia tahu bagaimana caranya
menegur kami secara tidak langsung hingga kami menyadari kesalahan kami sendiri. Contohnya: kasus plagiat Tio. Kasus ini cukup
dikenang di kelas kami.
Hari itu, Bu Wina menuliskan komentar
yang sama di atas kertas Tio dan Galih. Tulisannya begini:
‘Kamu tahu betapa berharganya sebuah ide
hingga ide itu bisa menjadi sebuah karya? Lalu apa bentuk apresiasimu kepadanya?’
Tio
yang pandai pasti mengerti maksud Bu Wina. Ia segera maju ke depan kelas
menghadap Bu Wina dan mengakui bahwa puisi tersebut bukanlah buatannya
melainkan buatan Galih. Tio juga mengakui itu di depan kelas. Di depan kami
semua.
Setelah itu, Galih menyodorkan kertas
puisinya kepada Tio. Saat itulah Tio tahu bahwa ternyata puisi mereka sama
persis. Galih menyalin tugas puisinya untuk tugas puisi Tio. Awalnya, Tio
terlihat marah kepada Galih saat mengetahui hal itu. Tetapi, kemarahan itu segera
mereda setelah disiram oleh perkataan Galih: ‘Gue sengaja, Yo. Gue nggak mau
temen gue jadi seorang plagiat. Lebih baik lu ngumpulin sebisa yang lu buat.
Sekalipun tulisan lu itu nggak masuk kategori layak dibaca hehehe Daripada lu
jadi plagiat, kalau ketauan yang malu siapa? Bukan gue, tapi elu kan?’ Setelah
itu Tio menuliskan puisi buatannya sendiri dan mengumpulkannya kepada Bu Wina.
Jadi…
ini benar bukan Tio si Anggasta Putra Satrio? Terus Tio yang mana? Atau jangan-jangan
aku dikerjain ya? Tega banget sih. Bikin
aku malu aja! Duh, Git yang salah kan bukan si orang yang nulis. Tapi kamunya
aja yang udah ge-er duluan. Ih tapi siapa yang nggak ge-er kalau ada yang nulis
kayak gini di papan tulis terus menggunakan nama Tio pula! Tapi harusnya kamu dari awal sadar, Git. Kalau Tio nggak bisa buat
puisi. Tapi gimana bisa kepikiran secepat itu kalau… Ah, gak tau deh! Rese banget sih yang iseng
kayak gini! Huh! Norak! Aku hanya bisa mengumpat di dalam hati. Tidak perlu
waktu lama untuk meyakinkan diriku sendiri. Akhirnya aku putuskan kalau ini
bukanlah Tio, Anggasta Putra Satrio, teman sekelasku. Rasa malu langsung mengalir ke seluruh tubuhku
dan mendidih tepat di wajahku. Rasanya aku tidak perlu menjelaskan lebih detail
lagi bagaimana malunya aku hari itu. Aku mau lenyap dari ruangan kelas saat itu
juga. Aku mau pulang!
Untungnya, otak dan perasaanku saat itu
masih bisa diajak kompromi untuk meminta maaf. Aku tarik napas
sedalam-dalamnya, menghembuskan secepat-cepatnya, dan nyegir selebar-lebarnya.
“Ohhh… aku dikerjain nih kayaknya. Maaf
ya, Yo. Jadi salah paham gini hehehe” Aku berusaha untuk mengucapkannya
sesantai mungkin. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sekuat tenaga aku masih menahan
rasa malu yang ada di dalam diriku. Aku yakin, semua yang ada di ruangan itu
pasti bisa melihat tingkahku yang ‘seolah-olah santai’ tapi gagal.
“Hei! Kalian tidak dengar Bel? Masih berdiri
di depan kelas! Cepat duduk di tempat masing-masing!” Ini keberuntunganku yang
ke dua. Ma’am Meira datang di saat
yang sangat tepat. Menyelamatkan mukaku yang semakin merah padam dan tingkahku
yang semakin salah tingkah di tengah kerumunan teman-teman sekelas.
Aku segera mengambil penghapus papan
tulis dan menghapus tulisan itu secepat yang aku bisa. Minimal aku sudah menghapus
namaku dan Tio sebelum Ma’am Meira
membacanya. Supaya aku selamat dari ‘perbandingan’ Ma’am Meira.
Maklum. Ma’am Meira memang berbeda dengan Bu Wina. Ma’am Meira lebih senang menegur langsung anak didiknya dan membanding-bandingkan
antara murid yang satu dengan yang lainnya. Terutama dalam urusan akademis. Aku
tidak bisa mengandalkan akademisku jika harus dibandingkan dengan Tio. Jelas,
aku kalah telak. Otakku masih dibawah Tio. Aku memang tidak kalah rajin
mengerjakan tugas darinya, tapi hasil akhir Tio hampir selalu lebih baik
dariku. Aku lemah dalam hal hitung-hitungan (lengkap dengan rumus-rumusnya yang
sulit aku hafal), sedangkan Tio sangat mahir. Dan kemampuan akademisku lainnya
yang jika disimpulkan di rapor sekolah akan seperti ini:
‘Akademis Gita BAIK. Akademis Tio SANGAT
BAIK.’
Tetap
Tio yang lebih baik.
Perbandingan Ma’am Meira akan di mulai dengan pertanyaan: ‘Ini pasti Gita yang
suka Tio kan? Pasti karena Tio pintar.’ Dan dilanjutkan dengan: ‘Kalau kamu
suka Tio, belajar yang rajin. Biar nyambung kalau diajak ngomong. Itu resiko
suka sama orang pintar. Jangan terlalu sering organisasi ini-itu, tapi
belajarnya lupa. Kamu bisa contoh Tio. Organisasi oke, belajarnya juga oke. Bla
bla bla bla bla’. Ah, sudahlah. Lebih baik aku hapus secepatnya!
Sesudah itu, aku berjalan menuju
kursiku di barisan paling belakang. Selagi aku berjalan, aku bisa melihat dari
ujung mataku senyuman-senyuman yang ditujukan untukku. Aku malu. Untungnya lagi
(dan ini keberuntunganku yang ketiga), kursiku di barisan belakang membuat wajah
maluku kembali terselamatkan dari tatapan seluruh isi kelas sepanjang pelajaran
berlangsung. Terkecuali Olsi yang duduk di bangku sebelahku.
Masih bertahan di antara sisa-sisa rasa
malu yang belum juga menghilang, aku keluarkan buku pelajaran bahasa Inggris
dan menaruhnya di atas meja sebelum suara Ma’am
Meira kembali terdengar (atau bahkan
akan segera mengomel).
“Open
your book and let me check your homework. Yang nggak ngerjain, GET OUT!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar