Sabtu, 02 Mei 2015

3. Malu

3
Malu

 “Ini loh maksudnya.” Galih mengambil inisiatif untuk menjelaskannya kepada Tio. Ia menunjuk-nunjuk kata ‘Tio’ yang diberi garis bawah di papan tulis.
“Oh! Itu Tio yang lain kali, Git. Bukan Tio saya.”
 “Maksudnya?” Sekarang aku yang bingung.
“Yaaaah Git. Tio mana bisa buat yang puitis kayak gitu.” Arsa ikut angkat bicara. “Dikasih tugas nulis puisi aja dia minta buatin Galih. Galih kali nih yang nulis!”
Galih menggeleng. “Bukan gue, Git. Suwer! Gue tuh kalau nulis puisi paling cuma 5 kata. Paling banyak 6 kata. Itu juga cuma buat tugas bahasa Indonesia. Lagian di sini namanya kan ‘TIO’ bukan ‘GALIH’. Tuh!”
 “Tapi ini bukan tulisan tangan saya dan saya paling nggak bisa nulis puisi. Cuma suka baca aja, Git.” Sambung Tio. “Mungkin ini Tio yang lain.”
“Ah, siapa tau lu minta orang lain nulisin ini tapi atas nama lu, Yo. Gue kan korban sekaligus saksi dari kejahatan plagiat lu. Jadi gue tau lu banget, Yo.” Ledek Galih sekaligus balas dendam atas tipuan Tio sebelumnya.
“Yeee… gue nggak segitunya juga kali, Lih. Kecuali sama lu. Lagian abis itu kan gue ngaku kalau itu bukan gue yang buat, tapi elu.”
Aku ingat! Waktu itu Bu Wina pernah menugasi kami untuk membuat sebuah puisi dan dikumpulkan. Tiga hari kemudian, puisi kami dikembalikan. Tidak ada nilai tertera di atas kertas kami. Yang ada hanya barisan komentar yang ditulis dengan tinta biru oleh Bu Wina. Komentarnya pun beragam. Yang jelas tidak ada satupun kalimat seperti ‘PUISI INI SANGAT JELEK, NAK!’ atau ‘KAMU TIDAK BERBAKAT MENULIS PUISI, NAK!’ yang ditulisnya untuk kami. Bu Wina tidak biasa langsung memvonis anak muridnya ‘tidak bisa’ pada mata pelajaran yang diajar oleh dirinya. Menurutnya, pada dasarnya semua anak memiliki potensi dibidang apapun. Sebagai seorang guru, ia bertugas menuntun anak didiknya untuk mengenali potensi diri mereka dan membantu untuk bisa mengembangkannya. Salah satunya melalui tugas menulis puisi pada mata pelajaran bahasa Indonesia.
Menurutku, Bu Wina adalah guru yang tahu benar bagaimana caranya menyampaikan sebuah kriktik yang membangun dan membangkitkan minat kami. Satu lagi keahlian Bu Wina. Ia tahu bagaimana caranya menegur kami secara tidak langsung hingga kami menyadari kesalahan kami sendiri.  Contohnya: kasus plagiat Tio. Kasus ini cukup dikenang di kelas kami.
Hari itu, Bu Wina menuliskan komentar yang sama di atas kertas Tio dan Galih. Tulisannya begini:

‘Kamu tahu betapa berharganya sebuah ide hingga ide itu bisa menjadi sebuah karya? Lalu apa bentuk apresiasimu kepadanya?’

Tio yang pandai pasti mengerti maksud Bu Wina. Ia segera maju ke depan kelas menghadap Bu Wina dan mengakui bahwa puisi tersebut bukanlah buatannya melainkan buatan Galih. Tio juga mengakui itu di depan kelas. Di depan kami semua.
Setelah itu, Galih menyodorkan kertas puisinya kepada Tio. Saat itulah Tio tahu bahwa ternyata puisi mereka sama persis. Galih menyalin tugas puisinya untuk tugas puisi Tio. Awalnya, Tio terlihat marah kepada Galih saat mengetahui hal itu. Tetapi, kemarahan itu segera mereda setelah disiram oleh perkataan Galih: ‘Gue sengaja, Yo. Gue nggak mau temen gue jadi seorang plagiat. Lebih baik lu ngumpulin sebisa yang lu buat. Sekalipun tulisan lu itu nggak masuk kategori layak dibaca hehehe Daripada lu jadi plagiat, kalau ketauan yang malu siapa? Bukan gue, tapi elu kan?’ Setelah itu Tio menuliskan puisi buatannya sendiri dan mengumpulkannya kepada Bu Wina.
Jadi… ini benar bukan Tio si Anggasta Putra Satrio? Terus Tio yang mana? Atau jangan-jangan  aku dikerjain ya? Tega banget sih. Bikin aku malu aja! Duh, Git yang salah kan bukan si orang yang nulis. Tapi kamunya aja yang udah ge-er duluan. Ih tapi siapa yang nggak ge-er kalau ada yang nulis kayak gini di papan tulis terus menggunakan nama Tio pula!  Tapi harusnya kamu dari  awal sadar, Git. Kalau Tio nggak bisa buat puisi. Tapi gimana bisa kepikiran secepat itu kalau…  Ah, gak tau deh! Rese banget sih yang iseng kayak gini! Huh! Norak! Aku hanya bisa mengumpat di dalam hati. Tidak perlu waktu lama untuk meyakinkan diriku sendiri. Akhirnya aku putuskan kalau ini bukanlah Tio, Anggasta Putra Satrio, teman sekelasku. Rasa malu langsung mengalir ke seluruh tubuhku dan mendidih tepat di wajahku. Rasanya aku tidak perlu menjelaskan lebih detail lagi bagaimana malunya aku hari itu. Aku mau lenyap dari ruangan kelas saat itu juga. Aku mau pulang!
Untungnya, otak dan perasaanku saat itu masih bisa diajak kompromi untuk meminta maaf. Aku tarik napas sedalam-dalamnya, menghembuskan secepat-cepatnya, dan nyegir selebar-lebarnya.
“Ohhh… aku dikerjain nih kayaknya. Maaf ya, Yo. Jadi salah paham gini hehehe” Aku berusaha untuk mengucapkannya sesantai mungkin. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sekuat tenaga aku masih menahan rasa malu yang ada di dalam diriku. Aku yakin, semua yang ada di ruangan itu pasti bisa melihat tingkahku yang ‘seolah-olah santai’ tapi gagal.
“Hei! Kalian tidak dengar Bel? Masih berdiri di depan kelas! Cepat duduk di tempat masing-masing!” Ini keberuntunganku yang ke dua. Ma’am Meira datang di saat yang sangat tepat. Menyelamatkan mukaku yang semakin merah padam dan tingkahku yang semakin salah tingkah di tengah kerumunan teman-teman sekelas.
Aku segera mengambil penghapus papan tulis dan menghapus tulisan itu secepat yang aku bisa. Minimal aku sudah menghapus namaku dan Tio sebelum Ma’am Meira membacanya. Supaya aku selamat dari ‘perbandingan’ Ma’am Meira.
Maklum. Ma’am Meira memang berbeda dengan Bu Wina. Ma’am Meira lebih senang menegur langsung anak didiknya dan membanding-bandingkan antara murid yang satu dengan yang lainnya. Terutama dalam urusan akademis. Aku tidak bisa mengandalkan akademisku jika harus dibandingkan dengan Tio. Jelas, aku kalah telak. Otakku masih dibawah Tio. Aku memang tidak kalah rajin mengerjakan tugas darinya, tapi hasil akhir Tio hampir selalu lebih baik dariku. Aku lemah dalam hal hitung-hitungan (lengkap dengan rumus-rumusnya yang sulit aku hafal), sedangkan Tio sangat mahir. Dan kemampuan akademisku lainnya yang jika disimpulkan di rapor sekolah akan seperti ini:

‘Akademis Gita BAIK. Akademis Tio SANGAT BAIK.’

Tetap Tio yang lebih baik.
Perbandingan Ma’am Meira akan di mulai dengan pertanyaan: ‘Ini pasti Gita yang suka Tio kan? Pasti karena Tio pintar.’ Dan dilanjutkan dengan: ‘Kalau kamu suka Tio, belajar yang rajin. Biar nyambung kalau diajak ngomong. Itu resiko suka sama orang pintar. Jangan terlalu sering organisasi ini-itu, tapi belajarnya lupa. Kamu bisa contoh Tio. Organisasi oke, belajarnya juga oke. Bla bla bla bla bla’. Ah, sudahlah. Lebih baik aku hapus secepatnya!
Sesudah itu, aku berjalan menuju kursiku di barisan paling belakang. Selagi aku berjalan, aku bisa melihat dari ujung mataku senyuman-senyuman yang ditujukan untukku. Aku malu. Untungnya lagi (dan ini keberuntunganku yang ketiga), kursiku di barisan belakang membuat wajah maluku kembali terselamatkan dari tatapan seluruh isi kelas sepanjang pelajaran berlangsung. Terkecuali Olsi yang duduk di bangku sebelahku.
Masih bertahan di antara sisa-sisa rasa malu yang belum juga menghilang, aku keluarkan buku pelajaran bahasa Inggris dan menaruhnya di atas meja sebelum suara Ma’am Meira kembali terdengar (atau  bahkan akan segera mengomel).
Open your book and let me check your homework. Yang nggak ngerjain, GET OUT!” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar