4
Jangan terlalu membenci
Usai makan malam, keluargaku yang
terdiri dari Ibun (panggilan untuk ibuku), Ayah, Alma (kakak perempuanku), dan
aku sedang berkumpul di gazebo taman belakang rumah. Hari itu adalah hari sabtu
atau malam minggu dan kami sekeluarga memilih untuk menghabiskan sisa-sisa
malam tersebut dengan berkumpul di rumah karena lima hari di minggu itu banyak
kami habiskan di luar rumah. Ayah pergi dinas ke Sumatera selama tiga hari dan
baru pulang Sabtu siang (siang tadi). Alma sibuk dengan kursus mata pelajaran
sebagai persiapan tes masuk universitas. Aku sendiri baru selesai ujian
nasional dan sedang menunggu pendaftaran SMA dibuka. Hari-hari liburku, aku
habiskan untuk berkumpul bersama teman-temanku. Alhasil selama seminggu ini
hanya tersisa Ibun dan Mpok Yem yang ada di rumah. Atas dasar alasan ‘Ibun
merasa kesepian seminggu ini’, jadilah kami berempat sepakat untuk menghabiskan
waktu malam minggu kami di rumah.
Halaman belakang kami tidak begitu luas
dan dikelilingi tembok dari tumpukan batu bata yang dibiarkan menampakan tampak
aslinya tanpa di balut semen seluruhnya. Di salah satu sisi tembok dipenuhi
tanaman Ibun dan membentuk vertical garden
(ini hobi Ibun. Berkebun). Batu-batu kerikil membentuk jalan setapak membelah
taman. Menjembatani antara rumah kami dan bagian ruang santai kami di taman. Ruang
santai kami berupa gazebo yang terdiri dari dua buah bangku kayu panjang yang
diposisikan seperti huruf L dan sebuah meja kayu panjang di depannya berwarna
coklat tua. Gazebo itu dibiarkan terbuka menghadap rerumputan hijau, dilindungi
atap sirap, dan diterangi beberapa lampu taman.
Alma
duduk berdampingan dengan ayah. Sedangkan aku duduk di samping Ibun dengan kepala
yang kubaringkan dipangkuan Ibun. Masing-masing dari kami menceritakan hal-hal
yang terjadi selama kami di luar rumah seminggu ini. Di sela-sela obrolan kami,
terdengar keluhan Alma mengenai salah satu teman kursusnya.
“Siapa tuh namanya yang anak ketujuh
itu?” Tanya Ibun.
“Sapta, Bun.”
“Oh iya, Sapta. Gimana tuh dia? Masih
suka isengin kamu?”
“Awalnya udah nggak Bun karena Alma minta
pindah kelas. Tadinya sih nggak boleh pindah karena semua kelas penuh. Tapi Alma
nggak suka di kelas itu karena ada si Sapta itu, Bun. Akhirnya Alma cari nama
orang yang kira-kira Alma kenal di kelas lain untuk minta tukeran kelas. Untungnya
Reihan mau tukeran kelas sama Alma dengan syarat Alma harus bawain bekal selama
satu bulan setiap hari Selasa dan Kamis. Alma setuju aja sama syaratnya Reihan
yang penting Alma bisa belajar dengan tenang di kelas.” Sekarang kakakku
mengkerutkan kedua bibirnya hingga terkatup rapat dan menautkan kedua alis
hingga membentuk kerutan di tengah-tengahnya. Sepertinya dia kesal dengan si
Sapta ini. “Tapi nggak lama setelah itu, Sapta ikutan pindah ke kelas Alma, Bun! Kesel
deh Bun rasanya!”
“Emang kenapa sih, Kak?”
“SStttt... Anak kecil mau tau aja sih. Nanti aja
kalau udah SMA kakak kasih tau.”
“Pelit.”
“Kamu lebih pelit.”
“Nyebelin.”
“Kamu lebih lebih lebih nyebelin.” Alma
tersenyum jahil dan mengejek melalui kedua bola matanya. Raut mukanya sangat
menjengkelkan.
Sebal dengan jawaban Alma ditambah
bonus senyum jahilnya dan ekspresinya yang jelek itu, aku bangun dan membiarkan
jari-jariku dengan cepat menghampiri rambut hitam panjangnya yang terurai
bergelombang lalu menariknya.
“AW! SAKIT!” Alma meraih lenganku
segera dan mencubitnya. Dalam sekejap terciptalah pertengkaran kakak beradik
dan berakhir dengan aku yang tertawa terbahak-bahak karena Alma mengelitiki
perutku tanpa ampun.
“KAK! IYA! IYA! MAAF!” Kata ‘maaf’
adalah kata kunci agar Alma berhenti. Garis senyum kemenangan tertoreh jelas di
wajah Alma. Memang cuma kakakku yang begini. “Huuu, katanya cowok Judo tapi
dikelitikin aja udah minta ampun.”
“Bun, nggak ada rencana untuk ngasingin
kakak ke Bandung aja? Atau ke luar negeri sekalian? Biar jauh dari sini, Bun. Biar
rumahnya tenang nggak ada yang rese kayak kakak.” Aku mencoba membujuk Ibun.
“Nanti kalau kangen kakak repot loh.
Jauh.” Ibun bersekongkol dengan Alma.
“Kamu aja yang nanti Ayah sama Ibun
asingin ke Bandung atau ke luar angkasa sekalian.” Kali ini Ayah ikut
bersekongkol dengan mereka berdua. Aku berusaha menyelamatkan diriku sebelum
datang lagi serangan dari Alma.
“Nggak perlu repot-repot ke luar
angkasa, Yah. Bandung juga oke kok. Tapi sebelum pengasingan dilakukan kasih
tau dulu ada apa sama si Sapta itu?”
“Emang kalau udah tahu, kamu mau apa?”
Tantang Alma sambil menaikan kedua alisnya. Inilah serangan Alma yang kumaksud
tadi.
“Mau hajar dia, Kak.”
“Hajar? Masih SMP aja udah sok deh.
Badan dia tuh lebih gede dari kamu. Yang ada kamu yang dihajar dia.”
“Biarin aja. Nggak takut. Asalkan kakak
nggak diapa-apain sama dia.” Ayah dan Ibun tertawa mendengar perkataanku
barusan. Iya, aku memang masih bocah SMP nanggung yang lagi nunggu masa putih
abu-abu datang. Tapi, aku sadar akan apa yang aku katakan. Aku akan menghajar
siapapun laki-laki yang berani kurang ajar dengan Alma, Ibun dan juga Ayah. Ini
peringatan. Aku tidak bercanda. Sebagai seorang laki-laki, aku harus melindungi
seluruh anggota keluargaku dan memastikan mereka semua aman. Itu ajaran ayah
dan Alma tahu sikapku yang satu itu karena aku pernah menghajar salah satu
teman laki-lakinya sebab ia menyembunyikan sepatu Alma hingga Alma menangis.
Kejadiannya waktu SD dulu. Aku kelas dua SD dan Alma kelas lima SD. Aku
menghajar anak kelas lima SD dan dia kalah. Setelah itu aku dipanggil oleh ibu
guru dan dimarahi oleh Ibun.
“Tuh kan, Bun. Nih anak otak tuanya
mulai keluar deh.” Alma mengangkat gelas bening berisi susu putih hangat dan
menyeruputnya. Agaknya adu argumen kami barusan menimbulkan musim kemarau di
tenggorokan Alma. Ia menengguk tiga perempat dari isi gelas. “Sapta tuh temen
SMA kakak dan satu tempat kursus sama kakak juga. Orangnya nyebelin deh
pokoknya. Alma nggak suka karena sikapnya dia yang suka gangguin orang dan
nggak penting. Jago ngomong sih, tapi ya itu… isi omongannya nggak penting,
bertele-tele, nggak berbobot, ujung-ujungnya cuma ngegombal dan berisik. Suka
sok-sok pinjem alat tulis atau catatan Alma, tapi abis itu nggak pernah
dikembaliin. Alasannya hilanglah, ketinggalanlah, inilah, itulah. Sok-sok mau
nganterin pulang, padahal malah dia yang nebeng Alma sampe rumahnya. Ih!
Nyebelin deh.” Alma bergidik. Mengangkat kedua bahunya dan menggeleng-gelengkan
kepalanya.
“Kalau dia mau ngelamar kamu, bilang
suruh ketemu Ayah dulu ya, Alma.” Goda Ayah dari balik kacamata bacanya.
“Jangan sampe deh, Yah! Hih! Amit-amit!
Mending cari yang lain aja deh.” Alma kembali bergidik. Kali ini gidikkan Alma
lebih menyiratkan ‘keamit-amitan’. Ayah melipat koran pagi yang baru sempat
dibacanya dan tertawa melihat tingkah Alma.
“Jangan membenci seseorang dengan
terlalu hanya karena segelintir sikapnya, Alma. Siapa tahu ternyata dia lebih
baik dari diri kita. Kita tidak tahu kan?” Sesi petuah Ibun dimulai. Suasana
hening perlahan dan hanya suara lembut Ibun yang mengalun di udara sampai ke
telinga kami bertiga. “Kalau ingin mengetahui sifat seseorang lebih dalam,
kenalah lebih dekat. Siapa tahu Sapta tidak seburuk yang kamu pikir. Siapa tahu
Sapta sedang berusaha menarik perhatianmu dan bersikap baik denganmu, tetapi
cara yang dia lakukan terasa kurang tepat bagimu.”
“Dan hati-hati. Yang sangat dibenci,
bisa berubah menjadi ‘yang sangat berbeda’ suatu hari nanti. Kita tidak pernah
tahu. Begitupun sebaliknya.” Ayah mengakhiri kalimat Ibun.
Wejangan dari keduanya membungkam mulut
Alma secepat mata berkedip. Aku menerka kalau Alma memahami maksud perkataan
kedua orangtuaku. Alma tenggelam dalam petuah mereka. Kalimat-kalimat itu juga
masuk ke dalam telingaku. Tapi perjalanannya menuju ruang pemahaman di dalam
otakku baru tiba dua tahun kemudian. Saat aku duduk di kelas dua SMA semester
ganjil. Saat aku mulai merasa gondok dengan tingkah anak perempuan yang satu
itu. Saat aku mengetahui namanya: Alkayara Naditya Aruna Gitari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar