Sabtu, 09 Mei 2015

4. Jangan Terlalu Membenci

4
Jangan terlalu membenci

Usai makan malam, keluargaku yang terdiri dari Ibun (panggilan untuk ibuku), Ayah, Alma (kakak perempuanku), dan aku sedang berkumpul di gazebo taman belakang rumah. Hari itu adalah hari sabtu atau malam minggu dan kami sekeluarga memilih untuk menghabiskan sisa-sisa malam tersebut dengan berkumpul di rumah karena lima hari di minggu itu banyak kami habiskan di luar rumah. Ayah pergi dinas ke Sumatera selama tiga hari dan baru pulang Sabtu siang (siang tadi). Alma sibuk dengan kursus mata pelajaran sebagai persiapan tes masuk universitas. Aku sendiri baru selesai ujian nasional dan sedang menunggu pendaftaran SMA dibuka. Hari-hari liburku, aku habiskan untuk berkumpul bersama teman-temanku. Alhasil selama seminggu ini hanya tersisa Ibun dan Mpok Yem yang ada di rumah. Atas dasar alasan ‘Ibun merasa kesepian seminggu ini’, jadilah kami berempat sepakat untuk menghabiskan waktu malam minggu kami di rumah.
Halaman belakang kami tidak begitu luas dan dikelilingi tembok dari tumpukan batu bata yang dibiarkan menampakan tampak aslinya tanpa di balut semen seluruhnya. Di salah satu sisi tembok dipenuhi tanaman Ibun dan membentuk vertical garden (ini hobi Ibun.  Berkebun).  Batu-batu kerikil membentuk jalan setapak membelah taman. Menjembatani antara rumah kami dan bagian ruang santai kami di taman. Ruang santai kami berupa gazebo yang terdiri dari dua buah bangku kayu panjang yang diposisikan seperti huruf L dan sebuah meja kayu panjang di depannya berwarna coklat tua. Gazebo itu dibiarkan terbuka menghadap rerumputan hijau, dilindungi atap sirap, dan diterangi beberapa lampu taman.
 Alma duduk berdampingan dengan ayah. Sedangkan aku duduk di samping Ibun dengan kepala yang kubaringkan dipangkuan Ibun. Masing-masing dari kami menceritakan hal-hal yang terjadi selama kami di luar rumah seminggu ini. Di sela-sela obrolan kami, terdengar keluhan Alma mengenai salah satu teman kursusnya.
“Siapa tuh namanya yang anak ketujuh itu?” Tanya Ibun.
“Sapta, Bun.”
“Oh iya, Sapta. Gimana tuh dia? Masih suka isengin kamu?”
“Awalnya udah nggak Bun karena Alma minta pindah kelas. Tadinya sih nggak boleh pindah karena semua kelas penuh. Tapi Alma nggak suka di kelas itu karena ada si Sapta itu, Bun. Akhirnya Alma cari nama orang yang kira-kira Alma kenal di kelas lain untuk minta tukeran kelas. Untungnya Reihan mau tukeran kelas sama Alma dengan syarat Alma harus bawain bekal selama satu bulan setiap hari Selasa dan Kamis. Alma setuju aja sama syaratnya Reihan yang penting Alma bisa belajar dengan tenang di kelas.” Sekarang kakakku mengkerutkan kedua bibirnya hingga terkatup rapat dan menautkan kedua alis hingga membentuk kerutan di tengah-tengahnya. Sepertinya dia kesal dengan si Sapta ini. “Tapi nggak lama setelah itu, Sapta ikutan pindah ke kelas Alma, Bun! Kesel deh Bun rasanya!”
“Emang kenapa sih, Kak?”
“SStttt... Anak kecil mau tau aja sih. Nanti aja kalau udah SMA kakak kasih tau.”
“Pelit.”
“Kamu lebih pelit.”
“Nyebelin.”
“Kamu lebih lebih lebih nyebelin.” Alma tersenyum jahil dan mengejek melalui kedua bola matanya. Raut mukanya sangat menjengkelkan.
Sebal dengan jawaban Alma ditambah bonus senyum jahilnya dan ekspresinya yang jelek itu, aku bangun dan membiarkan jari-jariku dengan cepat menghampiri rambut hitam panjangnya yang terurai bergelombang lalu menariknya.
“AW! SAKIT!” Alma meraih lenganku segera dan mencubitnya. Dalam sekejap terciptalah pertengkaran kakak beradik dan berakhir dengan aku yang tertawa terbahak-bahak karena Alma mengelitiki perutku tanpa ampun.
“KAK! IYA! IYA! MAAF!” Kata ‘maaf’ adalah kata kunci agar Alma berhenti. Garis senyum kemenangan tertoreh jelas di wajah Alma. Memang cuma kakakku yang begini. “Huuu, katanya cowok Judo tapi dikelitikin aja udah minta ampun.”
“Bun, nggak ada rencana untuk ngasingin kakak ke Bandung aja? Atau ke luar negeri sekalian? Biar jauh dari sini, Bun. Biar rumahnya tenang nggak ada yang rese kayak kakak.” Aku mencoba membujuk Ibun.
“Nanti kalau kangen kakak repot loh. Jauh.” Ibun bersekongkol dengan Alma.
“Kamu aja yang nanti Ayah sama Ibun asingin ke Bandung atau ke luar angkasa sekalian.” Kali ini Ayah ikut bersekongkol dengan mereka berdua. Aku berusaha menyelamatkan diriku sebelum datang lagi serangan dari Alma.
“Nggak perlu repot-repot ke luar angkasa, Yah. Bandung juga oke kok. Tapi sebelum pengasingan dilakukan kasih tau dulu ada apa sama si Sapta itu?”
“Emang kalau udah tahu, kamu mau apa?” Tantang Alma sambil menaikan kedua alisnya. Inilah serangan Alma yang kumaksud tadi.
“Mau hajar dia, Kak.”
“Hajar? Masih SMP aja udah sok deh. Badan dia tuh lebih gede dari kamu. Yang ada kamu yang dihajar dia.”
“Biarin aja. Nggak takut. Asalkan kakak nggak diapa-apain sama dia.” Ayah dan Ibun tertawa mendengar perkataanku barusan. Iya, aku memang masih bocah SMP nanggung yang lagi nunggu masa putih abu-abu datang. Tapi, aku sadar akan apa yang aku katakan. Aku akan menghajar siapapun laki-laki yang berani kurang ajar dengan Alma, Ibun dan juga Ayah. Ini peringatan. Aku tidak bercanda. Sebagai seorang laki-laki, aku harus melindungi seluruh anggota keluargaku dan memastikan mereka semua aman. Itu ajaran ayah dan Alma tahu sikapku yang satu itu karena aku pernah menghajar salah satu teman laki-lakinya sebab ia menyembunyikan sepatu Alma hingga Alma menangis. Kejadiannya waktu SD dulu. Aku kelas dua SD dan Alma kelas lima SD. Aku menghajar anak kelas lima SD dan dia kalah. Setelah itu aku dipanggil oleh ibu guru dan dimarahi oleh Ibun.
“Tuh kan, Bun. Nih anak otak tuanya mulai keluar deh.” Alma mengangkat gelas bening berisi susu putih hangat dan menyeruputnya. Agaknya adu argumen kami barusan menimbulkan musim kemarau di tenggorokan Alma. Ia menengguk tiga perempat dari isi gelas. “Sapta tuh temen SMA kakak dan satu tempat kursus sama kakak juga. Orangnya nyebelin deh pokoknya. Alma nggak suka karena sikapnya dia yang suka gangguin orang dan nggak penting. Jago ngomong sih, tapi ya itu… isi omongannya nggak penting, bertele-tele, nggak berbobot, ujung-ujungnya cuma ngegombal dan berisik. Suka sok-sok pinjem alat tulis atau catatan Alma, tapi abis itu nggak pernah dikembaliin. Alasannya hilanglah, ketinggalanlah, inilah, itulah. Sok-sok mau nganterin pulang, padahal malah dia yang nebeng Alma sampe rumahnya. Ih! Nyebelin deh.” Alma bergidik. Mengangkat kedua bahunya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kalau dia mau ngelamar kamu, bilang suruh ketemu Ayah dulu ya, Alma.” Goda Ayah dari balik kacamata bacanya.
“Jangan sampe deh, Yah! Hih! Amit-amit! Mending cari yang lain aja deh.” Alma kembali bergidik. Kali ini gidikkan Alma lebih menyiratkan ‘keamit-amitan’. Ayah melipat koran pagi yang baru sempat dibacanya dan tertawa melihat tingkah Alma.
“Jangan membenci seseorang dengan terlalu hanya karena segelintir sikapnya, Alma. Siapa tahu ternyata dia lebih baik dari diri kita. Kita tidak tahu kan?” Sesi petuah Ibun dimulai. Suasana hening perlahan dan hanya suara lembut Ibun yang mengalun di udara sampai ke telinga kami bertiga. “Kalau ingin mengetahui sifat seseorang lebih dalam, kenalah lebih dekat. Siapa tahu Sapta tidak seburuk yang kamu pikir. Siapa tahu Sapta sedang berusaha menarik perhatianmu dan bersikap baik denganmu, tetapi cara yang dia lakukan terasa kurang tepat bagimu.”
“Dan hati-hati. Yang sangat dibenci, bisa berubah menjadi ‘yang sangat berbeda’ suatu hari nanti. Kita tidak pernah tahu. Begitupun sebaliknya.” Ayah mengakhiri kalimat Ibun.

Wejangan dari keduanya membungkam mulut Alma secepat mata berkedip. Aku menerka kalau Alma memahami maksud perkataan kedua orangtuaku. Alma tenggelam dalam petuah mereka. Kalimat-kalimat itu juga masuk ke dalam telingaku. Tapi perjalanannya menuju ruang pemahaman di dalam otakku baru tiba dua tahun kemudian. Saat aku duduk di kelas dua SMA semester ganjil. Saat aku mulai merasa gondok dengan tingkah anak perempuan yang satu itu. Saat aku mengetahui namanya: Alkayara Naditya Aruna Gitari.

Sabtu, 02 Mei 2015

3. Malu

3
Malu

 “Ini loh maksudnya.” Galih mengambil inisiatif untuk menjelaskannya kepada Tio. Ia menunjuk-nunjuk kata ‘Tio’ yang diberi garis bawah di papan tulis.
“Oh! Itu Tio yang lain kali, Git. Bukan Tio saya.”
 “Maksudnya?” Sekarang aku yang bingung.
“Yaaaah Git. Tio mana bisa buat yang puitis kayak gitu.” Arsa ikut angkat bicara. “Dikasih tugas nulis puisi aja dia minta buatin Galih. Galih kali nih yang nulis!”
Galih menggeleng. “Bukan gue, Git. Suwer! Gue tuh kalau nulis puisi paling cuma 5 kata. Paling banyak 6 kata. Itu juga cuma buat tugas bahasa Indonesia. Lagian di sini namanya kan ‘TIO’ bukan ‘GALIH’. Tuh!”
 “Tapi ini bukan tulisan tangan saya dan saya paling nggak bisa nulis puisi. Cuma suka baca aja, Git.” Sambung Tio. “Mungkin ini Tio yang lain.”
“Ah, siapa tau lu minta orang lain nulisin ini tapi atas nama lu, Yo. Gue kan korban sekaligus saksi dari kejahatan plagiat lu. Jadi gue tau lu banget, Yo.” Ledek Galih sekaligus balas dendam atas tipuan Tio sebelumnya.
“Yeee… gue nggak segitunya juga kali, Lih. Kecuali sama lu. Lagian abis itu kan gue ngaku kalau itu bukan gue yang buat, tapi elu.”
Aku ingat! Waktu itu Bu Wina pernah menugasi kami untuk membuat sebuah puisi dan dikumpulkan. Tiga hari kemudian, puisi kami dikembalikan. Tidak ada nilai tertera di atas kertas kami. Yang ada hanya barisan komentar yang ditulis dengan tinta biru oleh Bu Wina. Komentarnya pun beragam. Yang jelas tidak ada satupun kalimat seperti ‘PUISI INI SANGAT JELEK, NAK!’ atau ‘KAMU TIDAK BERBAKAT MENULIS PUISI, NAK!’ yang ditulisnya untuk kami. Bu Wina tidak biasa langsung memvonis anak muridnya ‘tidak bisa’ pada mata pelajaran yang diajar oleh dirinya. Menurutnya, pada dasarnya semua anak memiliki potensi dibidang apapun. Sebagai seorang guru, ia bertugas menuntun anak didiknya untuk mengenali potensi diri mereka dan membantu untuk bisa mengembangkannya. Salah satunya melalui tugas menulis puisi pada mata pelajaran bahasa Indonesia.
Menurutku, Bu Wina adalah guru yang tahu benar bagaimana caranya menyampaikan sebuah kriktik yang membangun dan membangkitkan minat kami. Satu lagi keahlian Bu Wina. Ia tahu bagaimana caranya menegur kami secara tidak langsung hingga kami menyadari kesalahan kami sendiri.  Contohnya: kasus plagiat Tio. Kasus ini cukup dikenang di kelas kami.
Hari itu, Bu Wina menuliskan komentar yang sama di atas kertas Tio dan Galih. Tulisannya begini:

‘Kamu tahu betapa berharganya sebuah ide hingga ide itu bisa menjadi sebuah karya? Lalu apa bentuk apresiasimu kepadanya?’

Tio yang pandai pasti mengerti maksud Bu Wina. Ia segera maju ke depan kelas menghadap Bu Wina dan mengakui bahwa puisi tersebut bukanlah buatannya melainkan buatan Galih. Tio juga mengakui itu di depan kelas. Di depan kami semua.
Setelah itu, Galih menyodorkan kertas puisinya kepada Tio. Saat itulah Tio tahu bahwa ternyata puisi mereka sama persis. Galih menyalin tugas puisinya untuk tugas puisi Tio. Awalnya, Tio terlihat marah kepada Galih saat mengetahui hal itu. Tetapi, kemarahan itu segera mereda setelah disiram oleh perkataan Galih: ‘Gue sengaja, Yo. Gue nggak mau temen gue jadi seorang plagiat. Lebih baik lu ngumpulin sebisa yang lu buat. Sekalipun tulisan lu itu nggak masuk kategori layak dibaca hehehe Daripada lu jadi plagiat, kalau ketauan yang malu siapa? Bukan gue, tapi elu kan?’ Setelah itu Tio menuliskan puisi buatannya sendiri dan mengumpulkannya kepada Bu Wina.
Jadi… ini benar bukan Tio si Anggasta Putra Satrio? Terus Tio yang mana? Atau jangan-jangan  aku dikerjain ya? Tega banget sih. Bikin aku malu aja! Duh, Git yang salah kan bukan si orang yang nulis. Tapi kamunya aja yang udah ge-er duluan. Ih tapi siapa yang nggak ge-er kalau ada yang nulis kayak gini di papan tulis terus menggunakan nama Tio pula!  Tapi harusnya kamu dari  awal sadar, Git. Kalau Tio nggak bisa buat puisi. Tapi gimana bisa kepikiran secepat itu kalau…  Ah, gak tau deh! Rese banget sih yang iseng kayak gini! Huh! Norak! Aku hanya bisa mengumpat di dalam hati. Tidak perlu waktu lama untuk meyakinkan diriku sendiri. Akhirnya aku putuskan kalau ini bukanlah Tio, Anggasta Putra Satrio, teman sekelasku. Rasa malu langsung mengalir ke seluruh tubuhku dan mendidih tepat di wajahku. Rasanya aku tidak perlu menjelaskan lebih detail lagi bagaimana malunya aku hari itu. Aku mau lenyap dari ruangan kelas saat itu juga. Aku mau pulang!
Untungnya, otak dan perasaanku saat itu masih bisa diajak kompromi untuk meminta maaf. Aku tarik napas sedalam-dalamnya, menghembuskan secepat-cepatnya, dan nyegir selebar-lebarnya.
“Ohhh… aku dikerjain nih kayaknya. Maaf ya, Yo. Jadi salah paham gini hehehe” Aku berusaha untuk mengucapkannya sesantai mungkin. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sekuat tenaga aku masih menahan rasa malu yang ada di dalam diriku. Aku yakin, semua yang ada di ruangan itu pasti bisa melihat tingkahku yang ‘seolah-olah santai’ tapi gagal.
“Hei! Kalian tidak dengar Bel? Masih berdiri di depan kelas! Cepat duduk di tempat masing-masing!” Ini keberuntunganku yang ke dua. Ma’am Meira datang di saat yang sangat tepat. Menyelamatkan mukaku yang semakin merah padam dan tingkahku yang semakin salah tingkah di tengah kerumunan teman-teman sekelas.
Aku segera mengambil penghapus papan tulis dan menghapus tulisan itu secepat yang aku bisa. Minimal aku sudah menghapus namaku dan Tio sebelum Ma’am Meira membacanya. Supaya aku selamat dari ‘perbandingan’ Ma’am Meira.
Maklum. Ma’am Meira memang berbeda dengan Bu Wina. Ma’am Meira lebih senang menegur langsung anak didiknya dan membanding-bandingkan antara murid yang satu dengan yang lainnya. Terutama dalam urusan akademis. Aku tidak bisa mengandalkan akademisku jika harus dibandingkan dengan Tio. Jelas, aku kalah telak. Otakku masih dibawah Tio. Aku memang tidak kalah rajin mengerjakan tugas darinya, tapi hasil akhir Tio hampir selalu lebih baik dariku. Aku lemah dalam hal hitung-hitungan (lengkap dengan rumus-rumusnya yang sulit aku hafal), sedangkan Tio sangat mahir. Dan kemampuan akademisku lainnya yang jika disimpulkan di rapor sekolah akan seperti ini:

‘Akademis Gita BAIK. Akademis Tio SANGAT BAIK.’

Tetap Tio yang lebih baik.
Perbandingan Ma’am Meira akan di mulai dengan pertanyaan: ‘Ini pasti Gita yang suka Tio kan? Pasti karena Tio pintar.’ Dan dilanjutkan dengan: ‘Kalau kamu suka Tio, belajar yang rajin. Biar nyambung kalau diajak ngomong. Itu resiko suka sama orang pintar. Jangan terlalu sering organisasi ini-itu, tapi belajarnya lupa. Kamu bisa contoh Tio. Organisasi oke, belajarnya juga oke. Bla bla bla bla bla’. Ah, sudahlah. Lebih baik aku hapus secepatnya!
Sesudah itu, aku berjalan menuju kursiku di barisan paling belakang. Selagi aku berjalan, aku bisa melihat dari ujung mataku senyuman-senyuman yang ditujukan untukku. Aku malu. Untungnya lagi (dan ini keberuntunganku yang ketiga), kursiku di barisan belakang membuat wajah maluku kembali terselamatkan dari tatapan seluruh isi kelas sepanjang pelajaran berlangsung. Terkecuali Olsi yang duduk di bangku sebelahku.
Masih bertahan di antara sisa-sisa rasa malu yang belum juga menghilang, aku keluarkan buku pelajaran bahasa Inggris dan menaruhnya di atas meja sebelum suara Ma’am Meira kembali terdengar (atau  bahkan akan segera mengomel).
Open your book and let me check your homework. Yang nggak ngerjain, GET OUT!”