Jumat, 04 Maret 2016

5. Lagi?

5
Lagi?

Untuk Gitari,
Aku ingin memeluk matahari,
berlari memeluk bulan,
memutuskan memeluk angin,
dan berakhir memeluk air.
     Tapi, panasnya menjauhkanku
                    Tapi, aku tak sampai
                    Tapi, aku tidak bisa merasakannya
                    dan ia kabur menjauh

Sama saja seperti memelukmu.          
Damar

“Astaga! Lagi?!” Dahiku mengkerut melihat tulisan itu muncul lagi.
“Dan ini norak hahahaha ups sorry. Aku emang nggak paham soal puisi-puisi kayak gini, tapi dibandingin sama tiga puisi sebelumnya, ini keliatan lebih no…rak.”
Mataku masih menyapu barisan huruf-huruf di papan tulis. Begitu aku selesai membacanya, mataku kembali lagi ke baris pertama. Berkali-kali aku membacanya. Dari secepat kilat sampai secepat siput. Entah ada mantra apa dibalik kata-kata itu, aku mulai menyukai tulisannya. Tidak norak, pikirku.
Oh, tidak! No, Git! No! No! Ini norak! Norak! Norak! Norak!
“Iya sih. Norak.” Kataku. Mataku masih terus menelusuri kata per kata di papan tulis itu.
“Norak tapi kok dibaca terus? Cieee…” Ejek Olsi.
“Apaan sih?!” Aku segera mengelak, mengambil penghapus papan tulis, melenyapkan tulisan itu, dan menghapus tulisan ‘Damar’ terakhir setelah aku memastikan bahwa aku mengingatnya.
“Hmmm… kayaknya tahun ini tahun keberuntungan kamu deh, Gu. Asmara kamu lagi di puncak-puncaknya.”
“Sembarangan deh.”
“Buktinya, puisi ini udah yang ke empat kalinya. Selalu ditulis di papan tulis kelas dan namanya nggak pernah sama alias b-e-d-a...”
“…dan selalu bikin malu dan selalu aku kena tipu!” Aku melanjutkan.
“Iya sih, apesnya gitu. Eh, tapi siapa tau yang ke empat ini beneran orangnya. Kayak di novel-novel atau FTV, Gu. Awalnya sok misterius. Sok-sok nguji kesungguhan kamu, terus diakhir episode kalian akan ketemu, saling tatap-tatapan, terus…”
“…terus bilang ‘sorry itu bukan gue yang nulis’, gitu?” Cibirku.
“Ih pesimis banget sih, Non.”
“Emang begitu kan kenyataannya? Ingat setelah kejadian puisi dengan nama Tio? Dua minggu setelahnya terjadi hal yang sama dan namanya ‘Bayu’. Kita sampai mencari nama Bayu di buku absensi siswa satu sekolah di meja piket guru dan ternyata di sekolah ini ada tiga orang bernama Bayu dan ketiganya mengaku kalau bukan mereka yang menulis puisi itu. Dua minggu setelah insiden puisi bernama Bayu, muncul lagi puisi dengan nama penulisnya ‘Galih’. Ada berapa nama Galih di sekolah ini? Satu! Najandra Galih. Galih. Galih si anggota gengnya Tio dan pada akhirnya Galih bilang apa?”
“’Sorry itu bukan gue yang nulis, Git. Tapi, kalau lu kekeuh itu gue dan mau sama gue, gue juga nggak bisa nolak, Git.’” Gaya bicara Olsi persis seperti Galih.
“Tepat!”
“Tapi, Guuu.. siapa tau yang kali ini JODOH! Terus… jangan-jangan dia bakal nyatain perasaannya di puisi yang kelima!’ Khayalan Olsi muncul lagi. ‘Pisang keju pakai sagu.  Ayang Gugu, I love youuuu! Uuuuu so sweet! Jadi penasaran…” Ejek Olsi.
“Ha-ha-ha sejujurnya itu lebih norak, Si!”
Serius. Apa yang Olsi bilang barusan betul-betul norak! “Whatever you say about J-O-D-O-H, I don’t really care! Aku cuma mau tau siapa  yang sebenarnya nulis itu, Si, karena yang dia tulis itu bikin aku malu. Mau jodoh atau nggak, aku nggak peduli. Udah ah, titip ya.” Aku menyerahkan ranselku pada Olsi. Olsi paham maksudku. “Tolong ya, Si.”
 “IH! Eh, Gu! Mau kemana?”
“Meja piket. Cari buku absensi satu sekolah.”
“IKUUUT! TUNGGUIN, GU!”
“Tunggu di kelas aj...”


JEDUG!
Tepat setelah melalui pintu kelas, keningku menabrak bahu Galih.
“Aw! Sakit tau!”
Sorry ayang, Gita. Ayang Galih nggak liat,” Galih meminta maaf.
“Nggak usah pake ‘ayang ayang’!” Sahutku ketus. “Udah nabrak, pakai bilang ayang-ayang lagi.”
“Laaah… yang nabrak kan elu, Git,” Arsa angkat bicara membela Galih.
 “Biarin. Minggir ah!”
Aku langsung berjalan menuju meja piket. Sementara Olsi masih tertinggal jauh di belakang. Ia baru sampai di TKP tertabraknya keningku dengan bahu Galih barusan.
“Cakep-cakep galak. Jauh jodoh lu, Git,” Ejek Arsa.
“Ayang Gita mau kemana sih, Si? Buru-buru banget,” Tanya Galih begitu Olsi sampai tepat dihadapan mereka bertiga.
“Ke meja piket cari absensi sekolah.”
“Emang Reta nggak masuk? Gita kan bendahara,” tanya Tio.
“Bukan, Yo. Hmmm… buat nyari nama yang nulis puisi tadi.”
 Arsa menahan tawa sekuat tenaga, “Nenek sihir itu dikirimin puisi lagi?” 

Sabtu, 09 Mei 2015

4. Jangan Terlalu Membenci

4
Jangan terlalu membenci

Usai makan malam, keluargaku yang terdiri dari Ibun (panggilan untuk ibuku), Ayah, Alma (kakak perempuanku), dan aku sedang berkumpul di gazebo taman belakang rumah. Hari itu adalah hari sabtu atau malam minggu dan kami sekeluarga memilih untuk menghabiskan sisa-sisa malam tersebut dengan berkumpul di rumah karena lima hari di minggu itu banyak kami habiskan di luar rumah. Ayah pergi dinas ke Sumatera selama tiga hari dan baru pulang Sabtu siang (siang tadi). Alma sibuk dengan kursus mata pelajaran sebagai persiapan tes masuk universitas. Aku sendiri baru selesai ujian nasional dan sedang menunggu pendaftaran SMA dibuka. Hari-hari liburku, aku habiskan untuk berkumpul bersama teman-temanku. Alhasil selama seminggu ini hanya tersisa Ibun dan Mpok Yem yang ada di rumah. Atas dasar alasan ‘Ibun merasa kesepian seminggu ini’, jadilah kami berempat sepakat untuk menghabiskan waktu malam minggu kami di rumah.
Halaman belakang kami tidak begitu luas dan dikelilingi tembok dari tumpukan batu bata yang dibiarkan menampakan tampak aslinya tanpa di balut semen seluruhnya. Di salah satu sisi tembok dipenuhi tanaman Ibun dan membentuk vertical garden (ini hobi Ibun.  Berkebun).  Batu-batu kerikil membentuk jalan setapak membelah taman. Menjembatani antara rumah kami dan bagian ruang santai kami di taman. Ruang santai kami berupa gazebo yang terdiri dari dua buah bangku kayu panjang yang diposisikan seperti huruf L dan sebuah meja kayu panjang di depannya berwarna coklat tua. Gazebo itu dibiarkan terbuka menghadap rerumputan hijau, dilindungi atap sirap, dan diterangi beberapa lampu taman.
 Alma duduk berdampingan dengan ayah. Sedangkan aku duduk di samping Ibun dengan kepala yang kubaringkan dipangkuan Ibun. Masing-masing dari kami menceritakan hal-hal yang terjadi selama kami di luar rumah seminggu ini. Di sela-sela obrolan kami, terdengar keluhan Alma mengenai salah satu teman kursusnya.
“Siapa tuh namanya yang anak ketujuh itu?” Tanya Ibun.
“Sapta, Bun.”
“Oh iya, Sapta. Gimana tuh dia? Masih suka isengin kamu?”
“Awalnya udah nggak Bun karena Alma minta pindah kelas. Tadinya sih nggak boleh pindah karena semua kelas penuh. Tapi Alma nggak suka di kelas itu karena ada si Sapta itu, Bun. Akhirnya Alma cari nama orang yang kira-kira Alma kenal di kelas lain untuk minta tukeran kelas. Untungnya Reihan mau tukeran kelas sama Alma dengan syarat Alma harus bawain bekal selama satu bulan setiap hari Selasa dan Kamis. Alma setuju aja sama syaratnya Reihan yang penting Alma bisa belajar dengan tenang di kelas.” Sekarang kakakku mengkerutkan kedua bibirnya hingga terkatup rapat dan menautkan kedua alis hingga membentuk kerutan di tengah-tengahnya. Sepertinya dia kesal dengan si Sapta ini. “Tapi nggak lama setelah itu, Sapta ikutan pindah ke kelas Alma, Bun! Kesel deh Bun rasanya!”
“Emang kenapa sih, Kak?”
“SStttt... Anak kecil mau tau aja sih. Nanti aja kalau udah SMA kakak kasih tau.”
“Pelit.”
“Kamu lebih pelit.”
“Nyebelin.”
“Kamu lebih lebih lebih nyebelin.” Alma tersenyum jahil dan mengejek melalui kedua bola matanya. Raut mukanya sangat menjengkelkan.
Sebal dengan jawaban Alma ditambah bonus senyum jahilnya dan ekspresinya yang jelek itu, aku bangun dan membiarkan jari-jariku dengan cepat menghampiri rambut hitam panjangnya yang terurai bergelombang lalu menariknya.
“AW! SAKIT!” Alma meraih lenganku segera dan mencubitnya. Dalam sekejap terciptalah pertengkaran kakak beradik dan berakhir dengan aku yang tertawa terbahak-bahak karena Alma mengelitiki perutku tanpa ampun.
“KAK! IYA! IYA! MAAF!” Kata ‘maaf’ adalah kata kunci agar Alma berhenti. Garis senyum kemenangan tertoreh jelas di wajah Alma. Memang cuma kakakku yang begini. “Huuu, katanya cowok Judo tapi dikelitikin aja udah minta ampun.”
“Bun, nggak ada rencana untuk ngasingin kakak ke Bandung aja? Atau ke luar negeri sekalian? Biar jauh dari sini, Bun. Biar rumahnya tenang nggak ada yang rese kayak kakak.” Aku mencoba membujuk Ibun.
“Nanti kalau kangen kakak repot loh. Jauh.” Ibun bersekongkol dengan Alma.
“Kamu aja yang nanti Ayah sama Ibun asingin ke Bandung atau ke luar angkasa sekalian.” Kali ini Ayah ikut bersekongkol dengan mereka berdua. Aku berusaha menyelamatkan diriku sebelum datang lagi serangan dari Alma.
“Nggak perlu repot-repot ke luar angkasa, Yah. Bandung juga oke kok. Tapi sebelum pengasingan dilakukan kasih tau dulu ada apa sama si Sapta itu?”
“Emang kalau udah tahu, kamu mau apa?” Tantang Alma sambil menaikan kedua alisnya. Inilah serangan Alma yang kumaksud tadi.
“Mau hajar dia, Kak.”
“Hajar? Masih SMP aja udah sok deh. Badan dia tuh lebih gede dari kamu. Yang ada kamu yang dihajar dia.”
“Biarin aja. Nggak takut. Asalkan kakak nggak diapa-apain sama dia.” Ayah dan Ibun tertawa mendengar perkataanku barusan. Iya, aku memang masih bocah SMP nanggung yang lagi nunggu masa putih abu-abu datang. Tapi, aku sadar akan apa yang aku katakan. Aku akan menghajar siapapun laki-laki yang berani kurang ajar dengan Alma, Ibun dan juga Ayah. Ini peringatan. Aku tidak bercanda. Sebagai seorang laki-laki, aku harus melindungi seluruh anggota keluargaku dan memastikan mereka semua aman. Itu ajaran ayah dan Alma tahu sikapku yang satu itu karena aku pernah menghajar salah satu teman laki-lakinya sebab ia menyembunyikan sepatu Alma hingga Alma menangis. Kejadiannya waktu SD dulu. Aku kelas dua SD dan Alma kelas lima SD. Aku menghajar anak kelas lima SD dan dia kalah. Setelah itu aku dipanggil oleh ibu guru dan dimarahi oleh Ibun.
“Tuh kan, Bun. Nih anak otak tuanya mulai keluar deh.” Alma mengangkat gelas bening berisi susu putih hangat dan menyeruputnya. Agaknya adu argumen kami barusan menimbulkan musim kemarau di tenggorokan Alma. Ia menengguk tiga perempat dari isi gelas. “Sapta tuh temen SMA kakak dan satu tempat kursus sama kakak juga. Orangnya nyebelin deh pokoknya. Alma nggak suka karena sikapnya dia yang suka gangguin orang dan nggak penting. Jago ngomong sih, tapi ya itu… isi omongannya nggak penting, bertele-tele, nggak berbobot, ujung-ujungnya cuma ngegombal dan berisik. Suka sok-sok pinjem alat tulis atau catatan Alma, tapi abis itu nggak pernah dikembaliin. Alasannya hilanglah, ketinggalanlah, inilah, itulah. Sok-sok mau nganterin pulang, padahal malah dia yang nebeng Alma sampe rumahnya. Ih! Nyebelin deh.” Alma bergidik. Mengangkat kedua bahunya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kalau dia mau ngelamar kamu, bilang suruh ketemu Ayah dulu ya, Alma.” Goda Ayah dari balik kacamata bacanya.
“Jangan sampe deh, Yah! Hih! Amit-amit! Mending cari yang lain aja deh.” Alma kembali bergidik. Kali ini gidikkan Alma lebih menyiratkan ‘keamit-amitan’. Ayah melipat koran pagi yang baru sempat dibacanya dan tertawa melihat tingkah Alma.
“Jangan membenci seseorang dengan terlalu hanya karena segelintir sikapnya, Alma. Siapa tahu ternyata dia lebih baik dari diri kita. Kita tidak tahu kan?” Sesi petuah Ibun dimulai. Suasana hening perlahan dan hanya suara lembut Ibun yang mengalun di udara sampai ke telinga kami bertiga. “Kalau ingin mengetahui sifat seseorang lebih dalam, kenalah lebih dekat. Siapa tahu Sapta tidak seburuk yang kamu pikir. Siapa tahu Sapta sedang berusaha menarik perhatianmu dan bersikap baik denganmu, tetapi cara yang dia lakukan terasa kurang tepat bagimu.”
“Dan hati-hati. Yang sangat dibenci, bisa berubah menjadi ‘yang sangat berbeda’ suatu hari nanti. Kita tidak pernah tahu. Begitupun sebaliknya.” Ayah mengakhiri kalimat Ibun.

Wejangan dari keduanya membungkam mulut Alma secepat mata berkedip. Aku menerka kalau Alma memahami maksud perkataan kedua orangtuaku. Alma tenggelam dalam petuah mereka. Kalimat-kalimat itu juga masuk ke dalam telingaku. Tapi perjalanannya menuju ruang pemahaman di dalam otakku baru tiba dua tahun kemudian. Saat aku duduk di kelas dua SMA semester ganjil. Saat aku mulai merasa gondok dengan tingkah anak perempuan yang satu itu. Saat aku mengetahui namanya: Alkayara Naditya Aruna Gitari.

Sabtu, 02 Mei 2015

3. Malu

3
Malu

 “Ini loh maksudnya.” Galih mengambil inisiatif untuk menjelaskannya kepada Tio. Ia menunjuk-nunjuk kata ‘Tio’ yang diberi garis bawah di papan tulis.
“Oh! Itu Tio yang lain kali, Git. Bukan Tio saya.”
 “Maksudnya?” Sekarang aku yang bingung.
“Yaaaah Git. Tio mana bisa buat yang puitis kayak gitu.” Arsa ikut angkat bicara. “Dikasih tugas nulis puisi aja dia minta buatin Galih. Galih kali nih yang nulis!”
Galih menggeleng. “Bukan gue, Git. Suwer! Gue tuh kalau nulis puisi paling cuma 5 kata. Paling banyak 6 kata. Itu juga cuma buat tugas bahasa Indonesia. Lagian di sini namanya kan ‘TIO’ bukan ‘GALIH’. Tuh!”
 “Tapi ini bukan tulisan tangan saya dan saya paling nggak bisa nulis puisi. Cuma suka baca aja, Git.” Sambung Tio. “Mungkin ini Tio yang lain.”
“Ah, siapa tau lu minta orang lain nulisin ini tapi atas nama lu, Yo. Gue kan korban sekaligus saksi dari kejahatan plagiat lu. Jadi gue tau lu banget, Yo.” Ledek Galih sekaligus balas dendam atas tipuan Tio sebelumnya.
“Yeee… gue nggak segitunya juga kali, Lih. Kecuali sama lu. Lagian abis itu kan gue ngaku kalau itu bukan gue yang buat, tapi elu.”
Aku ingat! Waktu itu Bu Wina pernah menugasi kami untuk membuat sebuah puisi dan dikumpulkan. Tiga hari kemudian, puisi kami dikembalikan. Tidak ada nilai tertera di atas kertas kami. Yang ada hanya barisan komentar yang ditulis dengan tinta biru oleh Bu Wina. Komentarnya pun beragam. Yang jelas tidak ada satupun kalimat seperti ‘PUISI INI SANGAT JELEK, NAK!’ atau ‘KAMU TIDAK BERBAKAT MENULIS PUISI, NAK!’ yang ditulisnya untuk kami. Bu Wina tidak biasa langsung memvonis anak muridnya ‘tidak bisa’ pada mata pelajaran yang diajar oleh dirinya. Menurutnya, pada dasarnya semua anak memiliki potensi dibidang apapun. Sebagai seorang guru, ia bertugas menuntun anak didiknya untuk mengenali potensi diri mereka dan membantu untuk bisa mengembangkannya. Salah satunya melalui tugas menulis puisi pada mata pelajaran bahasa Indonesia.
Menurutku, Bu Wina adalah guru yang tahu benar bagaimana caranya menyampaikan sebuah kriktik yang membangun dan membangkitkan minat kami. Satu lagi keahlian Bu Wina. Ia tahu bagaimana caranya menegur kami secara tidak langsung hingga kami menyadari kesalahan kami sendiri.  Contohnya: kasus plagiat Tio. Kasus ini cukup dikenang di kelas kami.
Hari itu, Bu Wina menuliskan komentar yang sama di atas kertas Tio dan Galih. Tulisannya begini:

‘Kamu tahu betapa berharganya sebuah ide hingga ide itu bisa menjadi sebuah karya? Lalu apa bentuk apresiasimu kepadanya?’

Tio yang pandai pasti mengerti maksud Bu Wina. Ia segera maju ke depan kelas menghadap Bu Wina dan mengakui bahwa puisi tersebut bukanlah buatannya melainkan buatan Galih. Tio juga mengakui itu di depan kelas. Di depan kami semua.
Setelah itu, Galih menyodorkan kertas puisinya kepada Tio. Saat itulah Tio tahu bahwa ternyata puisi mereka sama persis. Galih menyalin tugas puisinya untuk tugas puisi Tio. Awalnya, Tio terlihat marah kepada Galih saat mengetahui hal itu. Tetapi, kemarahan itu segera mereda setelah disiram oleh perkataan Galih: ‘Gue sengaja, Yo. Gue nggak mau temen gue jadi seorang plagiat. Lebih baik lu ngumpulin sebisa yang lu buat. Sekalipun tulisan lu itu nggak masuk kategori layak dibaca hehehe Daripada lu jadi plagiat, kalau ketauan yang malu siapa? Bukan gue, tapi elu kan?’ Setelah itu Tio menuliskan puisi buatannya sendiri dan mengumpulkannya kepada Bu Wina.
Jadi… ini benar bukan Tio si Anggasta Putra Satrio? Terus Tio yang mana? Atau jangan-jangan  aku dikerjain ya? Tega banget sih. Bikin aku malu aja! Duh, Git yang salah kan bukan si orang yang nulis. Tapi kamunya aja yang udah ge-er duluan. Ih tapi siapa yang nggak ge-er kalau ada yang nulis kayak gini di papan tulis terus menggunakan nama Tio pula!  Tapi harusnya kamu dari  awal sadar, Git. Kalau Tio nggak bisa buat puisi. Tapi gimana bisa kepikiran secepat itu kalau…  Ah, gak tau deh! Rese banget sih yang iseng kayak gini! Huh! Norak! Aku hanya bisa mengumpat di dalam hati. Tidak perlu waktu lama untuk meyakinkan diriku sendiri. Akhirnya aku putuskan kalau ini bukanlah Tio, Anggasta Putra Satrio, teman sekelasku. Rasa malu langsung mengalir ke seluruh tubuhku dan mendidih tepat di wajahku. Rasanya aku tidak perlu menjelaskan lebih detail lagi bagaimana malunya aku hari itu. Aku mau lenyap dari ruangan kelas saat itu juga. Aku mau pulang!
Untungnya, otak dan perasaanku saat itu masih bisa diajak kompromi untuk meminta maaf. Aku tarik napas sedalam-dalamnya, menghembuskan secepat-cepatnya, dan nyegir selebar-lebarnya.
“Ohhh… aku dikerjain nih kayaknya. Maaf ya, Yo. Jadi salah paham gini hehehe” Aku berusaha untuk mengucapkannya sesantai mungkin. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sekuat tenaga aku masih menahan rasa malu yang ada di dalam diriku. Aku yakin, semua yang ada di ruangan itu pasti bisa melihat tingkahku yang ‘seolah-olah santai’ tapi gagal.
“Hei! Kalian tidak dengar Bel? Masih berdiri di depan kelas! Cepat duduk di tempat masing-masing!” Ini keberuntunganku yang ke dua. Ma’am Meira datang di saat yang sangat tepat. Menyelamatkan mukaku yang semakin merah padam dan tingkahku yang semakin salah tingkah di tengah kerumunan teman-teman sekelas.
Aku segera mengambil penghapus papan tulis dan menghapus tulisan itu secepat yang aku bisa. Minimal aku sudah menghapus namaku dan Tio sebelum Ma’am Meira membacanya. Supaya aku selamat dari ‘perbandingan’ Ma’am Meira.
Maklum. Ma’am Meira memang berbeda dengan Bu Wina. Ma’am Meira lebih senang menegur langsung anak didiknya dan membanding-bandingkan antara murid yang satu dengan yang lainnya. Terutama dalam urusan akademis. Aku tidak bisa mengandalkan akademisku jika harus dibandingkan dengan Tio. Jelas, aku kalah telak. Otakku masih dibawah Tio. Aku memang tidak kalah rajin mengerjakan tugas darinya, tapi hasil akhir Tio hampir selalu lebih baik dariku. Aku lemah dalam hal hitung-hitungan (lengkap dengan rumus-rumusnya yang sulit aku hafal), sedangkan Tio sangat mahir. Dan kemampuan akademisku lainnya yang jika disimpulkan di rapor sekolah akan seperti ini:

‘Akademis Gita BAIK. Akademis Tio SANGAT BAIK.’

Tetap Tio yang lebih baik.
Perbandingan Ma’am Meira akan di mulai dengan pertanyaan: ‘Ini pasti Gita yang suka Tio kan? Pasti karena Tio pintar.’ Dan dilanjutkan dengan: ‘Kalau kamu suka Tio, belajar yang rajin. Biar nyambung kalau diajak ngomong. Itu resiko suka sama orang pintar. Jangan terlalu sering organisasi ini-itu, tapi belajarnya lupa. Kamu bisa contoh Tio. Organisasi oke, belajarnya juga oke. Bla bla bla bla bla’. Ah, sudahlah. Lebih baik aku hapus secepatnya!
Sesudah itu, aku berjalan menuju kursiku di barisan paling belakang. Selagi aku berjalan, aku bisa melihat dari ujung mataku senyuman-senyuman yang ditujukan untukku. Aku malu. Untungnya lagi (dan ini keberuntunganku yang ketiga), kursiku di barisan belakang membuat wajah maluku kembali terselamatkan dari tatapan seluruh isi kelas sepanjang pelajaran berlangsung. Terkecuali Olsi yang duduk di bangku sebelahku.
Masih bertahan di antara sisa-sisa rasa malu yang belum juga menghilang, aku keluarkan buku pelajaran bahasa Inggris dan menaruhnya di atas meja sebelum suara Ma’am Meira kembali terdengar (atau  bahkan akan segera mengomel).
Open your book and let me check your homework. Yang nggak ngerjain, GET OUT!” 

Sabtu, 25 April 2015

2. Tio

                                        2
Tio

Ini bercanda? Batinku dalam hati.
“HAHAHAHA!” Sekitar  tiga orang laki-laki sedang tertawa di depan koridor kelas.
“Bener, kan?” Ucap salah satu dari mereka.
“Hahaha percuma. ”  Deg. Nah, ini suara Tio. Aku yakin! Dengan menutup mata sekalipun aku bisa menebak yang mana Tio di antara ketiga lelaki itu. Coba saja kumpulkan sepuluh atau lebih laki-laki di SMU ini dan suruh mereka tertawa satu-persatu secara bergantian. Aku berani taruhan, aku tahu yang mana Tio dalam sekali tebak. Gaya dan nada bicara Tio memang sangat khas. Kalau kata orang-orang, suara Tio itu berkarakter. Terdengar agak berat, bijak, dan santun. Apalagi kalau sedang berbicara dengan wanita! Ditambah lagi dengan gesture tubuhnya yang santai dan sikapnya yang tenang saat menghadapi lawan bicaranya. Sikap Tio membuat orang-orang di sekitarnya menjadi nyaman dan senang bercakap-cakap dengannya. Terutama para siswi di sekolah. Menurut pendapat pribadiku, sikap Tio yang seperti itu di hadapan wanita bukanlah sebuah kamuflase untuk pencitraan dirinya. Tapi, memang begitulah Tio yang aku kenal semenjak kami duduk di bangku SMP.
Aku pernah berkunjung ke rumah Tio beberapa kali. Hanya sekadar berkunjung menemani ibuku bertemu dengan ibunya Tio. Ibuku dan Ibu Tio sudah bersahabat jauh sebelum aku dan Tio melihat dunia. Ketika mereka sudah berkeluarga, mereka jadi jarang berkomunikasi dan sibuk mengurusi rumah tangganya masing-masing. Sampai aku dan Tio beranjak remaja dan memasuki SMP yang sama, di situlah, mereka bertemu kembali dan mulai bernostalgia. Persahabatan kedua ibu kami kemudian membawa keluargaku dan keluarga Tio menjadi dekat dan cukup sering mengadakan acara bersama. Meski begitu, aku dan Tio tidak sedekat kedua orang tua kami. Biasa saja. Tio cenderung lebih hemat bicara padaku dibanding dengan kedua adik kembarku, ayah, dan ibuku. Akupun begitu. Aku lebih banyak berbicara dengan ibu Tio, ayah Tio, dan mas Dimas , kakak laki-laki Tio yang dua tahun lebih tua dariku dan Tio. Bagiku mas Dimas lebih menyenangkan dan ramah dibandingkan Tio.
Antara mas Dimas dan Tio terdapat kesamaan yang aku simpulkan itu adalah hasil didikan dari kedua orang tua mereka. Yaitu cara mereka memperlakukan ibu mereka. Sangat santun sekali. Jika berbicara dengan ibu mereka, mereka selalu memantaskan volume dan nada  suara mereka. Cukup dengan volume yang sekiranya bisa di dengar oleh penerima suara dan dengan nada suara yang santun. Maka dari itu, aku tidak heran kalau di sekolah Tio bersikap seperti itu saat berbicara dengan wanita.  Mungkin karena alasan itu juga yang membuat Tio disukai dan dikagumi oleh banyak siswi di sini. Sesuai pula dengan namanya, Anggasta Putra Satrio. Putra satria yang bersemayam. Maksudnya adalah putra dari seorang kesatria yang selalu bersemayam di dalam hati orang-orang. Kata ibunya sih seperti itu. Aku sendiri menafsirkan kalimat ‘bersemayam di dalam hati’ dengan kata ‘disukai oleh orang-orang’ karena memiliki arti yang lebih luas lagi. Bisa ‘disukai’ karena memang menaruh perasaan lebih, seperti teman-temanku kebanyakan, atau bisa juga ‘disukai’ karena hanya mengaguminya, seperti yang terjadi padaku. Aku menyukai Tio karena mengagumi sosoknya. Tidak lebih.
Balik lagi ke masalah suara Tio.  Aku bisa mengenali suara ketawa Tio karena kalau sudah tertawa dengan kumpulan teman-temannya, suaranya yang agak berat itu terdengar menyebalkan di telinga. Aku serius. Suara ketawanya tidak enak didengar, tetapi khas.
“Pantesan di luar sepi.” Kata Arsa sambil bersandar di depan pintu. Menoleh ke koridor kelas yang sepi dan ke dalam kelas yang masih ramai dengan suara-suara bisikan.
Mata Galih menyapu suasana kelas dengan sekali pandang. “Kenapa rame gini di kelas? Emang jam pertama ada PR, Sa?” Tanya Galih kepada Arsa. Sambil menggigit roti coklat di tangan kanannya.
“Jangan berenti di depan pintu gini woy.”
Tio! Aku membatin lagi di dalam hati.
“Yo,” Galih menolehkan kepalanya ke belakang menghadap Tio.
“Telen dulu tuh roti baru ngomong.” Galih berusaha menelan roti di dalam mulutnya.
“Emang jam pertama ada PR?” Galih melempar pertanyaannya kepada Tio.
“Ada.”
“Ah, serius lu? Kok gue nggak inget?”
“Lah elu kan cabut seminggu, Lih?” Arsa mulai menimpali  dan Galih mulai panik.
“Elu kenapa nggak ngasih tau gue sih, Sa?!”
“Gimana mau ngasih tau? Ketemu lu aja baru hari ini.”
“Lu kan punya HP.”
“Lu kan juga punya HP.”
“Maksud gue, elu kan bisa kasih tau gue lewat HP lu!”
“Lah? Kenapa mesti gue yang ngasih tau lu?”
“Ya lu kan temen gue! Inisiatif dong! Inisiatif!” Galih semakin panik.
“Temen sih temen. Tapi tetep elu lah yang harusnya inisiatif. Kan yang nggak masuk sekolah elu. Yang butuh info elu. Elu punya HP dan elu punya temen buat ditanyain.”
“Bener juga lu. Duh! Kena usir lagi deh nih. Masa udah 2 bulan semester baru, gue ikut pelajaran Bahasa Inggris baru 2 kali? Kapan gue pinternya?”
 “Makanya jangan cabut mulu supaya lu pinter! Jadi nggak gampang dikibulin  kayak gini!”
“Wah, rese lu berdua!”
“Hahahaha udah, sekarang lu minggir, Lih. Gue mau lewat.” Galih bergeser. Memberikan ruang bagi Tio untuk berjalan. Tio berjalan memasuki ruang kelas menuju kursinya. Suasana kelas mendadak sunyi. Bola mata para penghuni kelas saling melempar lirik. Ke arahku. Lalu ke arah Tio. Lalu ke arah teman-teman di kelas. Lalu mereka tersenyum-senyum.
“Cie… Gitio! Gita Tio!” Ega memecah keheningan. Ugh! Dasar Ega!
“Cie… selamat ya!”
“Oh. Jadi Gita nih, Yo?”
“Gak apa-apa lagi. Biar Gita nggak galak lagi.”
“Banyak yang patah hati deh.”
Satu persatu mulai bersuara.
 “Alhamdulillah Gita laku! Hahaha”
 “Romantis banget sih.”
“Banget.”
“Puitis.”
“Ada apaan sih?” Tanya Galih bingung.
“Tuh.” Ega menunjuk papan tulis.
Galih dan Arsa langsung membaca tulisan yang dimaksud Ega. Ada napas yang berusaha ditahan oleh keduanya.
“HAHAHAHA!!!! YO!! HAHAHAHA!!” Galih dan Arsa tertawa puas. Malah Galih lebih puas lagi ketawanya.
Tio beranjak dari tempat duduknya. Menghampiri kedua sahabatnya dan membaca tulisan di papan tulis. “Terus kenapa?”
Terus kenapa? Oh iya ya. Terus kenapa? Ya nggak kenapa-kenapa sih. Eh, tunggu! Tunggu! Nggak kenapa-kenapa? Aduh! Mau mikir apa sih Git? Kok jadi bingung gini! Git, fokus. Fokus. Rileks dan berpikir  cepat, Git! Oke. Mungkin Tio hanya iseng aja, Git. Anggap aja bercanda. Mana mungkin Tio  ngelirik aku. Ngobrol aja jarang. Eh, tapi mungkin aja sih. Dalamnya hati kan nggak ada yang tau. Siapa tau Tio jarang ngomong sama aku karna dia malu dan nggak tau mesti ngomong apa. Bisa aja kan? Lagian orang kayak Tio nggak mungkin bercanda soal kayak gini kan? Kayaknya nggak mungkin deh. Iya, nggak mungkin Tio bercanda. Kali ini aku mencoba meyakinkan diriku kalau itu memang Tio.
Tio berdiri tidak jauh dariku. Aku kikuk. Sangat kikuk. Aku memutar otakku cepat. Memikirkan harus berkata apa kepada Tio. Udahlah, Git bilang aja ‘maaf, aku hanya mengagumi kamu’. Ih! Nggak! Nggak! Atau ‘Maksud kamu apa? Pengecut banget! Bilang langsung aja emang nggak bisa? Pake sok-sok nulis puisi!’ Nggak! Nggak! Itu sama aja kayak orang yang nggak tau terimakasih. Oh iya! Terimakasih! Tidak ada salahnya dengan mengucapkan terimakasih atas kebaikan yang telah diberikan kepada kita, kan?
“Yo…” Aku mulai membuka suara. Tio langsung memutar balikan tubuhnya menghadapku.  Gesturenya masih tenang dan santai, tapi suaranya langsung berubah.
“Kenapa, Git?”
AAAAHHH! Gita! Apa yang kamu lakuin?! Kenapa dipanggil sih!
Sekarang telapak tanganku mulai berkeringat. Tatapan mataku mulai tidak fokus mau melihat ke arah mana. Demi apapun aku mau lari dari ruang kelas saat itu juga. Tapi, semua udah terlanjur. Tio sudah membalikan badannya. Aku kumpulkan setengah keberanian yang kupunya untuk menunjuk tulisan di papan tulis.
“Oh. Itu. Iya, udah baca,Git.” 
 Aku kumpulkan lagi setengah keberanian yang aku sisakan untuk mengucapkan terimakasih. “Makasih, ya.”
Legaaaa. Pikirku.
Kelaspun langsung riuh dengan sorakan-sorakan yang terdengar samar-samar di telingaku karena aku sibuk mengatur degup jantungku yang terus berdetak kencang dan telapak tanganku yang terus berkeringat.
“Makasih untuk apa, Git?” Tanya Tio.
Aku mulai berani menatap Tio dan menunjuk lagi tulisan di papan tulis. “Itu. Bagus.”
Galih kembali tertawa. “Hahahaha Iyalah bagus, Git!”
Tio memutar balik tubuhnya. Entah isyarat apa yang diberikan Tio kepada Galih sampai membuat Galih tidak lagi bersuara. Aku hanya bisa melihat Galih menangkupkan kedua telapak tangannya sambil mengucap kata ‘maaf…maaf…’ tanpa bersuara. Setelah itu Tio memutar kembali tubuhnya. Berhadapan lagi denganku.
“Iya, Git. Bagus.”
“Iya. Makasih, Yo.”
“Kenapa makasihnya ke saya?” Tanya Tio. Bingung. 

Rabu, 22 April 2015

1. Tolong, sisakanlah sedikit ruang di dalam kepalamu

1
Tolong, sisakanlah sedikit ruang di dalam kepalamu




Bagi sebagian siswa, pergi ke sekolah di pagi hari adalah hal yang cukup menyebalkan. Bangun pagi. Mandi pagi. Berkutat dengan asap knalpot di pagi hari. Berdesak-desakan di dalam angkutan umum dan berbagai kegiatan menyebalkan lainnya yang harus terjadi di pagi hari. Tapi, aku tidak masalah dengan itu semua. Aku tidak masalah dengan asap knalpot pagi dan penuhnya penumpang di dalam angkutan umum karena aku tidak mengalami hal itu. Bukan. Bukan karena aku naik kendaraan pribadi ke sekolah, melainkan karena aku bangun dan berangkat lebih pagi dari siswa kebanyakan.
Sebelumnya aku bukanlah seorang siswi yang rajin datang pagi ke sekolah. Paling cepat sepuluh menit sebelum bel berbunyi kakiku baru mendarat di depan gerbang sekolah. Alasannya sederhana karena setiap pagi aku harus sarapan (entah kenapa aku kalau sarapan sangat lamban). Setelah sarapan, alarm perutku akan berbunyi. Memberitahu sudah waktunya untuk menuntaskan sisa-sisa makanan semalam ke tempat seharusnya dibuang. Selepas ritual setiap pagi itu, aku baru berangkat ke sekolah. Semua kegiatan berjalan dengan tenang hingga tiba di sekolah. Tapi, ulah manusia yang satu itu telah mengubah semua jadwal rutinitas pagiku. Semuanya terjadi lebih pagi dari jadwal biasanya dan berjalan lebih cepat dari biasanya karena aku harus tiba sepagi-paginya di sekolah. Akupun resmi menjadi siswi teladan pagi. Sebuah predikat yang aku berikan sendiri untuk menyenangkan diriku sendiri. Meskipun pada akhirnya tidak berpengaruh sama sekali.
Mari berbicara tentang cinta sebentar. Aku pernah membaca kisah cinta yang romantis di berbagai buku cerita, mendengarnya dari orang-orang di sekitarku, dan melihatnya di televisi dan film. Ceritanya seputar tokoh pria yang mengutarakan cintanya dengan cara yang sangat romantis demi memikat hati sang pujaan hati. Mengerahkan seluruh rasa cintanya untuk melindunginya. Berusaha mengubah kesedihannya menjadi kebahagiaan sepanjang hari. Sang wanita kemudian merasa sangat beruntung dicintai oleh lelaki seperti tokoh pria tersebut dan tidak jarang cerita akan berakhir dengan akhir yang bahagia. Ah, betapa bahagianya wanita itu! Iya, wanita di dalam cerita-cerita itu! Mereka seperti tidak direpotkan oleh tokoh pria yang mencintainya. Setidaknya tidak membuatnya datang lebih pagi ke sekolah sepertiku. Hah! Aku benar-benar kesal!
Entah tokoh pria yang satu ini nyasar dari peradaban apa, tahun berapa, dan planet mana. Setidaknya aku belum pernah bertemu dengan seseorang yang selain merepotkan, ia juga berbakat menjadi seorang penyair. Penyair kelas yang norak!
Semua bermula di suatu hari yang cerah, anggap saja hari itu adalah hari yang cerah karena setelahnya akan berubah menjadi gelap dengan petir yang menyambar-nyambar seketika. Seperti biasa, aku tiba di sekolah sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi.
Di sekolah, hari itu tidak biasanya Ega berucap syukur pagi-pagi. Di koridor depan kelas. Tidak jauh dari pintu kelas. Di depan mukaku dan jelas sekali rasa syukur itu  ditujukan kepadaku. Tumben.
“Git! Alhamdulillah! Puji syukur, Git!”
“Sehat, Ga? Tumben pagi-pagi udah bersyukur. Minggir ah! Mau lewat nih!”
Tiba-tiba muncul Olsi dari balik pintu kelas. Tanpa babibu, Olsi langsung menyemburku.
“Gu! Kok nggak cerita sih!” Gugu itu nama panggilan dari Olsi. Jangan tanya asal nama Gugu dari mana. Soalnya, aku juga nggak tau dari mana dan kenapa dari Gita bisa jadi Gugu. Sesuka Olsi saja. Terserah. Dia memang suka gunta-ganti nama orang sesuka hatinya. Selama nggak ada penambahan huruf ‘K’ dibelakang kata Gugu, aku nggak masalah.
“Nggak cerita tentang apa sih, Si?”
“Sini!” Tangan Olsi langsung menyambar pergelangan tanganku dan menarik tubuhku menuju ke dalam kelas.
Ramai. Suasana di kelas saat itu sedang ramai. Beberapa dari mereka bersorak ke arahku. Beberapa dari mereka menjatuhkan tatapannya ke arahku. Beberapa dari mereka memberikan selamat kepadaku. Beberapa dari mereka mengejeku seperti yang dilakukan Ega di koridor depan kelas.
Langkah dan tarikan tangan Olsi berhenti tepat di antara kerumunan teman-teman yang sedang berdiri di depan kelas.
“Tuh!” Olsi menunjuk papan tulis yang berada di sebelah kananku. Aku tengokan kepalaku terlebih dahulu. Ada barisan kata-kata di sana. Ditulis dengan huruf yang cukup rapi dan langsing-langsing. Lalu, kuputar tubuhku hingga berhadapan dengan papan tulis dan ku baca tulisan di papan tulis itu. Tulisan yang kemudian menyulut petir-petir muncul di pagi hari untuk cepat menyambar-nyambar seluruh penjuru dunia. Terutama sekolah!

Untuk Gitari,
Tulisan ini akan dibaca oleh beberapa pasang mata hingga selesai
Dan akan menjadi buah manis bagi bibir-bibir manis di luar sana
Lalu, saat kamu datang pada waktunya
Akan kamu dapati sekumpulan orang di depanmu
Menatapmu dengan takjub
Mengucap namamu berkali-kali
Kemudian, semua yang terjadi menjadi tanda tanya besar di kepalamu
Dan terjawab saat kamu selesai membaca tulisan ini.

Tolong, sisakanlah sedikit ruang di dalam kepalamu
Untuk aku singgah melepas letih setelah berlari demi menulis ini untukmu.
Tio                         


“Tio?” Hanya satu Tio yang aku kenal di SMU-ku. “Anggasta Putra Satrio?”