5
Lagi?
Untuk Gitari,
Aku ingin memeluk matahari,
berlari memeluk bulan,
memutuskan memeluk angin,
dan berakhir memeluk air.
Tapi, panasnya menjauhkanku
Tapi,
aku tak sampai
Tapi,
aku tidak bisa merasakannya
dan
ia kabur menjauh
Sama saja seperti memelukmu.
Damar
“Astaga! Lagi?!”
Dahiku mengkerut melihat tulisan itu muncul lagi.
“Dan ini norak
hahahaha ups sorry. Aku emang nggak
paham soal puisi-puisi kayak gini, tapi dibandingin sama tiga puisi sebelumnya,
ini keliatan lebih no…rak.”
Mataku masih menyapu
barisan huruf-huruf di papan tulis. Begitu aku selesai membacanya, mataku
kembali lagi ke baris pertama. Berkali-kali aku membacanya. Dari secepat kilat
sampai secepat siput. Entah ada mantra apa dibalik kata-kata itu, aku mulai menyukai
tulisannya. Tidak norak, pikirku.
Oh, tidak! No, Git! No! No! Ini norak! Norak! Norak! Norak!
“Iya sih. Norak.”
Kataku. Mataku masih terus menelusuri kata per kata di papan tulis itu.
“Norak tapi kok dibaca
terus? Cieee…” Ejek Olsi.
“Apaan sih?!” Aku
segera mengelak, mengambil penghapus papan tulis, melenyapkan tulisan
itu, dan menghapus tulisan ‘Damar’ terakhir setelah aku memastikan bahwa aku
mengingatnya.
“Hmmm… kayaknya tahun
ini tahun keberuntungan kamu deh, Gu. Asmara kamu lagi di puncak-puncaknya.”
“Sembarangan deh.”
“Buktinya, puisi ini
udah yang ke empat kalinya. Selalu ditulis di papan tulis kelas dan namanya
nggak pernah sama alias b-e-d-a...”
“…dan selalu bikin
malu dan selalu aku kena tipu!” Aku melanjutkan.
“Iya sih, apesnya
gitu. Eh, tapi siapa tau yang ke empat ini beneran orangnya. Kayak di
novel-novel atau FTV, Gu. Awalnya sok misterius. Sok-sok nguji kesungguhan kamu,
terus diakhir episode kalian akan ketemu, saling tatap-tatapan, terus…”
“…terus bilang ‘sorry itu bukan gue yang nulis’, gitu?”
Cibirku.
“Ih pesimis banget sih,
Non.”
“Emang begitu kan
kenyataannya? Ingat setelah kejadian puisi dengan nama Tio? Dua minggu
setelahnya terjadi hal yang sama dan namanya ‘Bayu’. Kita sampai mencari nama
Bayu di buku absensi siswa satu sekolah di meja piket guru dan ternyata di
sekolah ini ada tiga orang bernama Bayu dan ketiganya mengaku kalau bukan
mereka yang menulis puisi itu. Dua minggu setelah insiden puisi bernama Bayu,
muncul lagi puisi dengan nama penulisnya ‘Galih’. Ada berapa nama Galih di
sekolah ini? Satu! Najandra Galih. Galih. Galih si anggota gengnya Tio dan pada
akhirnya Galih bilang apa?”
“’Sorry itu bukan gue yang nulis, Git. Tapi, kalau lu kekeuh itu gue
dan mau sama gue, gue juga nggak bisa nolak, Git.’” Gaya bicara Olsi persis
seperti Galih.
“Tepat!”
“Tapi, Guuu.. siapa tau yang kali ini
JODOH! Terus… jangan-jangan dia bakal nyatain perasaannya di puisi yang
kelima!’ Khayalan Olsi muncul lagi. ‘Pisang keju pakai sagu. Ayang Gugu,
I love youuuu! Uuuuu so sweet!
Jadi penasaran…” Ejek Olsi.
“Ha-ha-ha sejujurnya itu lebih norak,
Si!”
Serius. Apa yang Olsi bilang barusan betul-betul norak! “Whatever you say about J-O-D-O-H, I don’t really care! Aku cuma mau tau siapa yang sebenarnya nulis itu, Si, karena yang dia tulis itu bikin aku malu. Mau jodoh atau nggak, aku nggak peduli. Udah ah, titip ya.” Aku menyerahkan ranselku pada Olsi. Olsi paham maksudku. “Tolong ya, Si.”
Serius. Apa yang Olsi bilang barusan betul-betul norak! “Whatever you say about J-O-D-O-H, I don’t really care! Aku cuma mau tau siapa yang sebenarnya nulis itu, Si, karena yang dia tulis itu bikin aku malu. Mau jodoh atau nggak, aku nggak peduli. Udah ah, titip ya.” Aku menyerahkan ranselku pada Olsi. Olsi paham maksudku. “Tolong ya, Si.”
“IH! Eh, Gu! Mau kemana?”
“Meja piket. Cari buku
absensi satu sekolah.”
“IKUUUT! TUNGGUIN, GU!”
“Tunggu di kelas aj...”
JEDUG!
Tepat setelah melalui pintu
kelas, keningku menabrak bahu Galih.
“Aw! Sakit tau!”
“Sorry ayang, Gita. Ayang Galih nggak liat,” Galih meminta maaf.
“Nggak usah pake ‘ayang
ayang’!” Sahutku ketus. “Udah nabrak, pakai bilang ayang-ayang lagi.”
“Laaah… yang nabrak
kan elu, Git,” Arsa angkat bicara membela Galih.
“Biarin. Minggir ah!”
Aku langsung berjalan
menuju meja piket. Sementara Olsi masih tertinggal jauh di belakang. Ia baru
sampai di TKP tertabraknya keningku dengan bahu Galih barusan.
“Cakep-cakep galak. Jauh
jodoh lu, Git,” Ejek Arsa.
“Ayang Gita mau kemana
sih, Si? Buru-buru banget,” Tanya Galih begitu Olsi sampai tepat dihadapan
mereka bertiga.
“Ke meja piket cari
absensi sekolah.”
“Emang Reta nggak
masuk? Gita kan bendahara,” tanya Tio.
“Bukan, Yo. Hmmm… buat
nyari nama yang nulis puisi tadi.”
Arsa menahan tawa sekuat tenaga, “Nenek sihir
itu dikirimin puisi lagi?”